S2 kajian Budaya

Pendidikan calon Magister Kajian Budaya didukung oleh para dosen senior dan berpengalaman karena disiplin ini bersifat multi- dan interdisipliner di samping menggunakan teori-teori kritis dan postmodernisme. Dengan sendirinya, pendekatan dan pemikiran baru melekat dengan sendirinya dalam setiap penelitian kajian budaya. Pendekatan dan pemikiran baru bahkan merupakan jiwa penelitian Kajian Budaya.

Dalam sejarahnya, perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini menunjukkan adanya dua macam yaitu monodisiplin dan multidisiplin. Sejak berabad-abad ilmu yang memiliki sifat monodisiplin ini sudah berkembang dengan pesat dan memberikan kontribusi terhadap kehidupan umat manusia. Akan tetapi, perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa ilmu monodisiplin itu kurang berkembang, dibandingkan dengan ilmu yang multidisiplin. Perkembangan ini dianggap memberikan pilihan-pilihan bagi munculnya kajian-kajian baru dalam konteks perkembangan ilmu-ilmu kebudayaan, social, dan humaniora pada umumnya. Di sinilah peran ilmu yang multidisiplin sebagaimana yang dapat dilihat ketika pada tahun 1950-an sebuah kajian yang bersifat interdisipliner atau dengan menggunakan pendekatan multidisipliner mulai dilakukan, yang pada akhirnya berkembang dengan apa yang disebut Kajian Budaya. Kajian Budaya yang dikembangkan dengan menerapkan pendekatan multi-, inter-, atau trans-disipliner itu mampu memberikan pemahaman baru terhadap fenomena kehidupan masyarakat global.

Dilihat dari perspektif perkembangan filsafat ilmu ini bisa dimengerti, karena persoalan dalam filsafat ilmu yang menyangkut masalah ontologi, epistemologi dan aksiologi perlu diterapkan secara integral agar mampu memberikan pemecahan masalah sosial budaya yang dihadapi masyarakat pasca-modern. Ini berarti bahwa tidak hanya persoalan-persoalan ontologi saja yang mestinya dikembangkan dalam wacana akademis di universitas seperti menyangkut persoalan eksistensi keilmuan, akan tetapi yang lebih signifikan adalah persoalan epistemologis yang menyangkut bagaimana sebuah permasalahan dianalisis menggunakan pendekatan dan pemikiran baru penting dilakukan. Hal ini penting dilakukan mengingat realitas kehidupan sosial budaya masyarakat dewasa ini yang menuntut pembahasan aksiologis yang berkaitan dengan segi manfaat pembahasan suatu keilmuan dalam kaitannya dengan upaya mengajak masyarakat, pemerintah dan stakeholders lainnya untuk menuju kehidupan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa Kajian Budaya berkaitan dengan persoalan kehidupan sehari-hari. Dalam terminologi yang umum Kajian Budaya sebagai sebuah paradigma penelitian tentang studi sosial dan kemanusiaan yang mengkombinasikan antara sosiologi, film, studi video, teori sastra, komunikasi, teori sosial, teori media, filsafat, studi museum dan sejarah seni dan antropologi budaya dalam mempelajari fenomena kebudayaan dalam masyarakat. Oleh karena itu, dapat dipahami, mengapa peneliti-peneliti Kajian Budaya sering mengkonsentrasikan tentang bagaimana fenomena yang khusus berkaitan dengan masalah ideologi, kebangsaan, etnisitas, klas sosial dan gender. Berkaitan dengan proses globalisasi, Kajian Budaya mulai menganalisis bentuk-bentuk lokal dan global tentang perlawasan terhadap hegemoni Barat. Tambahan pula, dengan mengambil program Kajian Budaya akan memberikan kesempatan untuk mempraktikkan variasi analisis termasuk maksud perluasan pemahaman tentang teks kunci dan mengembangkan ekspresi dalam konsep inti.

Selain sifat multi- dan inter-disiplinenya, Kajian Budaya dalam mengembangkan perspektif keilmuannya memanfaatkan teori-teori kontemporer seperti postmodernisme, post-semiotik, interteks, resepsi, feminis, hegemoni, komodifikasi, postkolonialisme, dekonstruksi, dan sebagainya. Ini secara keseluruhan berfungsi untuk mengeksplanasi persoalan-persoalan yang begitu kompleks sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif.

Kajian Budaya mengambil aspek-aspek yang variatif tentang kebudayaan dan menginterpretasikan cara yang bervariasi itu yang mana diterima, diinternasilisasikan dan diciptakan kembali dan direpresentasikan oleh berbagai sektor yang berbeda kebudayaan dan para stakeholders di masyarakat. Terdapat banyak studi yang dilaksanakan dalam skhema ini khusunya tentang bagaimana kelompok sub-budaya dan individu (sub-cultural groups and individuals) menolak bentuk dominan tentang kebudayaan dan identitas, menciptakan gaya yang mereka miliki sendiri dan identitas kelompok etnik yang berbeda di Indonesia. Oleh karema itu, tampak dalam perkembangannya bahwa disiplin baru Kajian Budaya ini memusatkan secara utama tentang analisis kebudayaan mengenai perempuan, pemuda, kelas pekerja, dan kelompok minoritas. Setelah dua hingga tiga dekade peletakan dasar kerja, Kajian Budaya Unud secara bertahap mengembangkan wilayah pengembangan bidang keilmuannya secara mapan.

Jadi, semangat zaman (zeitgeist) yang berkembang dalam beberapa dasawarsa terakhir terkait dengan kehidupan masyarakat kontemporer di era global membutuhkan pendekatan dan pemikiran baru keilmuan seperti Kajian Budaya. Hal ini sesuai dengan Pola Ilmiah Pokok Kebudayaan Universitas Udayana yang berniat mendobrak batas-batas keilmuan antar-ilmu. Buktinya adalah seluruh tesis mahasiswa dan penelitian dosen Kajian Budaya Unud sudah menerapkan pendekatan dan pemikiran baru keilmuan yang dimaksud. Pertama, pendekatan dan pemikiran baru yang dimaksud menyangkut sifat multi- dan inter-disipliner Kajian Budaya. Kedua, pendekatan dan pemikiran baru tersebut menyangkut penggunaan teori-teori dan metode-metode yang kritis dan postmodern. Semua ini untuk menjawab tantangan kehidupan yang makin kompleks dari masyarakat masa kini.