Kaji Eksistensi Kuliner Tinutuan, Dosen Poltekes Manado Raih Gelar Doktor Kajian Budaya di Unud

Prof. I Wayan Cika saat mengenakan toga kepada Dr. Grace Kerly (Foto-foto Bayu Gita Purnama)

Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana kembali melahirkan seorang Doktor Kajian Budaya. Melalui ujian terbuka (Promosi Doktor) Grace Kerly Lony Langi sukses menjadi doktor ke-205 program Doktor Kajian Budaya.

Ujian terbuka berlangsung pada hari Rabu, 7 Februari 2018, di Ruang Ir. Soekarno Fakultas Ilmu Budaya. Ujian terbuka dipimpin langsung oleh Dekan FIB Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A.

Pada Ujian Terbuka kali ini, Grace Kerly mempertahankan disertasi dengan judul “Eksistensi kuliner Tinutuan dalam Pola Kebiasaan Makan di Kota Manado”. Promotor dari Grace Kerly Lony Langi, S.Pd., SST, MPHM. adalah Prof. Dr. I Wayan Cika, M.S., Kopromotor I adalah Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., dan Kopromotor II adalah Dr. Putu Sukardja, M.Si.

Setelah mengukuti ujian, promovenda dinyatakan lulus dengan predikat ‘Sangat Baik’. Dr. Grace Kerly Lony Langi, S.Pd., SST, MPHM. merupakan doktor ke-34 di Fakultas Ilmu Budaya.

Dr. Grace Kerly berfoto bersama Tim Penguji

Tim Penguji

Sebagai ketua penguji pada ujian ini adalah Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A., anggota penguji diantaranya adalah Prof. Dr. I Wayan Cika, M.S., Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., Dr. Putu Sukardja, M.Si., Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, S.U., Prof. Dr. I Nyoman Kutha Ratna, S.U., Dr. Ni Luh Arjani, M.Hum., dan Dr. I Ketut Setiawan., M.Hum.

Turut hadir keluarga promovenda dan koleganya di Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado, serta karyasiswa Program Kajian Budaya FIB.

Kuliner Tinutuan di Kota Manado

Tinutuan adalah makanan khas Kota Manado yang lebih dikenal dengan Bubur Manado. Tinutuan adalah salah satu kuliner yang sangat terkenal di Kota Manado dan bahkan menjadi trend bagi masyarakat Kota Manado.

Kuliner Tinutuan ini juga termasuk salah satu tradisi lisan di Kota Manado. Keunikan kuliner ini terdapat pada salah satu bahannya yaitu geli, yang sangat sulit ditemui di daerah lain.  Kuliner Tinutuan ini sempat menjadi selogan bagi kota Manado pada tahun 2005-2010, “Kota Manado Kota Tinutuan”. Kuliner ini juga menjadi menu persahabatan dan menjadi kian popular dengan julukan 4B.

Dr. Grace Kerly berfoto bersama keluarga dan kolega setelah ujian terbuka.

Eksistensi Kuliner Tinutuan di Kota Manado

Meski menjadi masakan yang trend dan menjadi ikon kuliner Kota Manado, Tinutuan ternyata mengalami beberapa kendala dalam eksistensinya. Pertama, kuliner ini cukup sulit ditemui di Kota Manado.

Kedua, wisatawan yang hendak menikmati kuliner ini tidak mudah mendapatkannya, karena kuliner ini hanya disediakan pada hotel-hotel tertentu saja, rata-rata pada hotel berbintang saja.

Ketiga, setelah pukul dua belas siang, mencari kuliner ini sangat sulit. Kebanyakan warung penjual tunutuan akan tutup setelah pukul 12.00.

Keempat, tidak hanya wisatawan yang akhirnya kesulitan mencari Tinutuan, masyarakat Kota Manado juga semakin kesulitan mencari Tinutuan. Tidak semua kantin di kantor pemerintah dan instansi swasta menjual tunutuan.

Suasana ujian terbuka.

Kelima, menimbulkan masalah kesehatan akibat perubahan pola makan yang tidak menyukai makan sayur.

Hasil penelitian ini kemudian menunjukkan bahwa bentuk eksistensi kuliner Tinutuan  dalam pola kebiasaan makan, hubungan penyiapan bahan dan alat, mengolah serta menyajikannya mengalami perubahan, disorder, da nada juga order.

Faktor yang memengaruhi eksistensi kuliner Tinutuan dalam pola kebiasaan makan di Kota Manado adalah faktor budaya, agama dan kepercayaan, perilaku, rasa, dan kesehatan. Semua faktor ini saling berkait dalam mempengaruhi eksistensi kuliner Tinutuan.

Kemudian dampak dan makna dari eksistensi kuliner Tinutuan dalam berbagai bentuk berimplikasi terhadap dinamika kehidupan pola kebiasaan makan di Kota Manado. Eksistensi pola makan kuliner ini dalam pola kebiasaan makan memberikan dampak bagi kesehatan, kesejahteraan sosial, dan kesejahteraan ekonomi.

Temuan

Temuan-temuan dalam penelitian ini diantaranya bergesernya sifat bentuk kuliner Tinutuan, yang secara tradisional bersifat komunal menjadi individual. Bergesernya nilai mutu kuliner Tinutuan terutama dari bahan pangan yang menjadi bahan kuliner ini.

Kuliner Tinutuan ini juga belum secara maksimal disajikan pada acara-acara sosial-ekonomi masyarakat.

Para undangan.

Temuan ketiga keyakinan bahwa modernisasi dan globalisasi telah menghegemoni, memarginalisasi, dan memunahkan tradisi-tradisi lokal ternyata dalam penelitian ini keyakinan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Makna Disertasi

Prof. I Wayan Cika selaku promotor dalam kesempatanya memberikan sambutan turut memberikan selamat dan pujian kepada Grace Kerly atas segala keberhasilannya menyelesaikan studi. Prof. Cika juga mengapresiasi pihak keluarga yang turut juga berperan besar dalam keberhasilan Grace Kerly menempuh pendidikannya.

“Penelitian ini saya rasa memiliki manfaat yang besar tidak bagi masa depan kuliner Tinutuan semata, namun juga pada eksistensi budaya-budaya lain yang berkaitan dengan budaya kuliner ini di Kota Manado. Jadi sangat mungkin penelitian ini berkontribusi secara langsung dalam usaha-usaha pemertahanan budaya di Kota Manado”

Prof. Cika juga berharap kepada Dr. Grace Kerly agar mengabdikan apa yang telah diperoleh pada dunia akademik ketika kembali ke tengah masyarakat (I Gede Gita Purnama A.P).