Dosen Universitas Halu Oleo Kendari Raih Gelar Doktor Linguistik di FIB Universitas Udayana

Promotor Prof. Aron Meko Mbete menyerahkan sertifikat kelulusan kepada doktor baru, Dr. Maulid Taembo, S.Pd., M.A. (Foto-foto Dedy)

Program Studi Doktor Linguistik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana menyelenggarakan ujian terbuka promosi doktor dengan promovendous Maulid Taembo, S.Pd., M.A., Jumat 2 Februari 2018 di Ruang Ir. Soekarno kampus setempat. Ujian terbuka dipimpin oleh Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A.

Setelah mengukuti ujian, promovendous dinyatakan lulus dengan predikat ‘Sangat Baik’. Dr. Maulid Taembo, S.Pd., M.A merupakan doktor ke-130 pada Program S3 Ilmu Linguistik, dan merupakan doktor ke-32 di Fakultas Ilmu Budaya.

Pada ujian ini, Maulid Taembo mempertahankan disertasi dengan judul “Dialek Geografi Bahasa Wakatobi di Lepas Pantai Sulawesi Tenggara”. Promotor dari Maulid Taembo, S.Pd., M.A. adalah Prof. Dr. Aron Meko Mbete, Kopromotor I adalah Dr. Ni Made Dhanawaty, M.S., dan Kopromotor II adalah Dr. Anak Agung Putu Putra, M.Hum.

Para penguji.

Tim Penguji

Pada ujian terbuka kali ini bertindak selaku ketua penguji adalah Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A., anggota penguji diantaranya adalah  Prof. Dr. Aron Meko Mbete, Dr. Ni Made Dhanawaty, M.S., Dr. Anak Agung Putu Putra, M.Hum., Prof. Dr. Drs. Ida Bagus Putra Yadnya, M.A., Prof. Dr. I Wayan Simpen, M. Hum., Dr. Ni Made Suryati, M.Hum., dan Dr. La Ino, S.Pd. M.Hum.

Turut hadir pula dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo Kendari serta Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Halu Oleo. Keluarga besar promovendous juga hadir dalam ujian terbuka tersebut.

Dialek Geografi Bahasa Wakatobi

Bahasa Wakatobi di kawasan Sulawesi Tenggara selama ini belum mendapat perhatian serius dari peneliti bahasa, khususnya spesifikasi dialektologi (dialek geografi). Selain itu masih banyak perbedaan pendapat mengenai hubungan antara isolek-isolek dalam bahasa Wakatobi.

Doktor baru, Dr. Maulid Taembo, S.Pd., M.A.

Wilayah pemakaian bahasa Wakatobi yang tersebar di beberapa pulau dan terpisahkan oleh laut dengan jarak tempuh yang cukup jauh membuat bahasa Wakatobi ini begitu penting untuk diteliti dari sudut pandang dialektologi.

Penelitian yang dilakukan pada bahasa Wakatobi ini menggunakan dasar teori dialektologi generatif dan teori dialektologi tradisional. Penerapan kedua teori ini disesuaikan dengan tukuan penelitian yang ingin dicapai.

Berdasarkan hasil pendeskrepsian fonologi yang didapatkan dalam penelitian ini, terdapat empat belas bunyi vokal, lima vokal terbukti sebagai fonem vokal. Berdasarkan deskripsi variasi fonologis ditemukan vokal-vokal dan konsonan-konsonan yang bervariasi secara teratur dan sporadis.

Para undangan.

Proses-proses fonologis yang ditemukan dalam penelitian ini berupa asimilasi, struktur silabel, dan pemanjangan vokal. Sementara itu ditemukan juga perbedaan bentuk linguistik yang diperoleh dengan menggunakan 978 glos, terdapat 625 glos yang berian-beriannya berbeda secara leksikal.

Temuan

Temuan-temuan dalam penelitian yang dilakukan oleh Maulid Taembo diantaranya adalah untuk membuktikan bentuk paling tua dan bentuk turunan sebuah bahasa, harus memperhatikan karakteristik bahasa tersebut.

Dimensi kebaruan dalam penelitian ini adalah aspek metodologis yang menunjukkan bahwa selain jumlah kosakata, kebervariasian data yang meliputi berbagai medan makna juga sangat penting dalam pengelompokan data.

Temuan ketiga dalam penelitian ini adalah pengelompokan  bahasa Wakatobi ke dalam 6 subdialek bahasa Wakatobi. Lima subdialek berada pada pulau yang berbeda, yaitu subdialek Kapota di Pulau Kapota, subdialek Mandat-Lia di Pulau Kaledupa, subdialek Tomia di Pulau Tomia, dan subdialek Binongko di Pulau Binongko. Sementara subdialek Waha berada di Pulau Wangi-wangi bersama dengan subdialek Mandati-Lia.

Makna Disertasi

Prof. Aron Meko Mbete selaku promotor dalam kesempatannya memberikan sambutan menyampaikan rasa bahagia dan pujian pada Maulid Taembo atas keberhasilannya menyelesaikan studi dengan baik.

Promotor Prof. Aron.

Selain itu Prof. Aron juga menyampaikan rasa bangga karena Maulid Taembo menjadi salah satu doktor termuda yang berhasil menyelesaikan studi di Program Doktor Ilmu Linguistik FIB, Maulid menyelesaikan studi selama tujuh semester dan memperoleh gelar doktor di usia 31 tahun.

 “Saya cuma berpesan, saudara selaku doktor muda hendaknya tidak berhenti berkarya. Sebab hasil penelitian saudara ini sangat bermanfaat bagi usaha-usaha pelestarian bahasa Wakatobi,” pesan Prof.Aron kepada Maulid Taembo (I Gede Gita Purnama A.P).