Ketua KPU Buleleng Raih Gelar Doktor Kajian Budaya di FIB Unud

Dr. Gde Suardana menerima sertifikat kelulusan dari promotor Prof. I Nyoman Darma Putra (kanan) (Foto-foto I Made Sujaya)

Program studi doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud melahirkan doktor baru, Dr. Gde Suardana, setelah yang bersangkutan dinyatakan lulus dalam ujian terbuka di Ruang Ir. Soekarno, kampus setempat, Rabu, 31 Januari 2018. Promovendus yang sehari-hari adalah Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) lulus sebagai doktor ke-204 dari Prodi Doktor Kajian Budaya Unud.

Dalam ujian terbuka yang dipimpin Dekan FIB Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha,M.A., promovendus Gde Suardana berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Analisis Komodifikasi Seni Pertunjukan Pariwisata Bali Agung – The Legend of Balinese Goddesses”.

Gde Suardana dinyatakan lulus dengan predikat ’sangat memuaskan’.  Selama kuliah, Gde mendapat beasiswa dari Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).

Dr. Gde Suardana (keempat dari kanan) berfoto bersama penguji.

Para penguji terdiri dari Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra (promotor), Prof. Nengah Bawa Atmaja (ko-promotor), Dr. I Putu Sukardja (ko-promotor), Prof. Dr. I Wayan Ardika, Prof. Dr. I Nyoman Kutha Ratna, Prof. Dr. AAB Wirawan, Dr. I Gde Mudana, dan Dr. Bambang Dharwiyanto Putro.

Seni Pertunjukan Hybrid

Dalam paparannya, Gde Suardana menyampaikan bahwa seni pertunjukan pariwisata Bali Agung – The Legend of Balinese Goddesses yang dipentaskan secara reguler di Bali Safari and Marine Park, Gianyar, Bali, merupakan seni pertunjukan hybrid, campuran unsur kesenian Bali dan Cina.

Gde Suardana.

“Lakon yang dikisahkan diambil dari mitos Raja Jayapangus dengan permaisuri putri Cina Kang Cing Wie,”ujar Gde yang pernah berkarier sebagai wartawan untuk Detik.com.

Unsur Cina tampak dari tata busana Kang Cing Wie dan tokoh cerita lain berlatar Cina serta tata warna dominan merah yang merupakan warna-warni identitas Cina.

“Unsur percampuran tidak saja dari seni Bali dan Cina tetapi juga unsur teater modern Barat seperti tampak dari tata lampu, tata musik, dan tentu saja tata panggung,” ujar Gde.

Gde Suardana saat presentasi dan tanya jawab.

Dua tokoh penting dalam produksi seni pertunjukan Bali Agung seniman Bali I Made Sidia dengan seniman Barat Peter J Wilson. Kolaborasi seni sudah terjadi tahun 1930-an, ketika Walter Spies dan Wayan Limbak menciptakan kembali Tari Kecak.

“Bedanya tari kecak milik komunal siapa saja boleh mementaskan. Bali Agung menjadi milik lembaga yang hanya boleh dipentaskan oleh Bali Safari,” cetus Gde menegaskan salah satu poin penting disertasinya.

Tujuh Tahun

Menurut Gde, pertunjukan Bali Agung yang sudah dipentaskan selama tujuh tahun itu berbeda dengan pertunjukan tradisional. Seni pertunjukan tradisional dipentaskan di panggung kecil, terbuka, dan sederhana, sedangkan Bali Agung dipentaskan dalam gedung pertunjukan yang dilengkapi sarana multimedia yang canggih, peralatan suara serta tata lampu panggung dengan teknologi tinggi.

Anggota DPD Bali Pasek Suardika yang hadir dalam ujian terbuka.

“Ruang pentas Bali Agung merupakan gedung pertunjukan terbesar di Bali,” ujarnya.

Sejak dipentaskan sebagai seni turistik, Bali Agung mampu menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali. Gaya berlibur di era yang kian berkembang memerlukan tempat menonton kesenian lokal atau hybrid di gedung yang nyaman.

Masalah disertasi seni pertunjukan turistik ini dikaji dengan teori komodifikasi, semiotika, dan ideologi pariwisata budaya. Teater Bali Agung memiliki unsur pertunjukan turistik berupa kisah lintas negara, Bali Cina, yang dapat memikat wisatawan mancanegara, terutama Cina yang jumlahnya meningkat terus ke Bali.

Para undangan dari kalangan KPU se-Bali.

Makna Disertasi

Promotor Prof. I Nyoman Darma Putra menyampaikan bahwa topik yang diangkat dalam disertasi Gde inovatif, aktual, dan substansial.

“Inovatif karena topik komodifikasi pertunjukan Bali Agung belum dibahas mendalam namun Gde berhasil menjadikannya topik untuk disertasi bidang kajian budaya,” ujar Prof. Darma.

Sifat aktual kajiannya terlatak pada fakta bahwa kajian komodifikasi merupakan hal yang banyak dibahas dewasa ini juga karena objeknya memiliki kedudukan istimewa dalam pariwisata Bali yang komit mengembangkan pariwisata budaya, sementara Bali Agung tidak sepenuhnya seni pertunjukan otentik Bali.

Disertasi Gde memberikan kontribusi dalam kajian atas seni pertunjukan pariwisata dalam konteks pariwisata budaya yang dilakukan peneliti sebelumnya speerti Miche Picard (1980-an).

Prof. Darma Putra saat memberikan sambutan makna disertasi.

Picard menyampaikan bahwa pariwisata budaya (cultural tourism) dan budaya pariwisata (touristik culture) bukan dua hal yang berbeda karena orang Bali melihat keduanya menyatu dalam pengembangan pariwisata dan pengembangan budaya.

Sejak penelitian Picard, dan sejak hadirnya Bali Agung, kajian substantif pertunjukan turistik belum pernah dilaksanakan. Tidak mudah melakukan penelitian atas pentas dari usaha yang besar karena biasanya perusahaan bersifat tertutup membuka rahasia dapur.

“Namun, promovendus memiliki kemampuan menembus narasumber dalam penelitiannya sebuah skill yang dimiliki sebagai mantan wartawan,” ujar Darma.

Darma menyarankan disertasinya segera bisa diolah dengan menambah uraian tentang profil dua tokoh Bali Agung yaitu Made Sidia dan Peter Wilson.

Berjalan Lancar

Ujian terbuka dan promosi doktor berjalan lancar. Tampak hadir sejumlah dosen dan mahasiswa Kajian Budaya Unud dan kolega promovendus dari kalangan KPU Bali dan kabupaten. Ikut pula hadir teman dekat promovendus seperti I Gde Pasek Suardika, seorang politisi, anggota DPD dari Bali.

Ikut pula hadir adalah keluarga promovendus yang ikut berbahagia (Ida Ayu Laksmita Sari)