Dosen Bahasa Indonesia Made Madia Raih Gelar Doktor Ilmu LInguistik di FIB Unud

Doktor I Made Madia menerima sertifikat kelulusan dari promotor Prof. Ketut Artawa. usai ujian Jumat, 26 Januari 2018 (Foto-foto Ida Ayu Laksmita Sari)

Program Studi Doktor (S3) Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Udayana menggelar Promosi Doktor atas nama Drs. I Made Madia, M.Hum. Jumat, 26 Januari 2018, bertempat di ruang Ir. Soekarno kampus setempat.

I Made Madia berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Konstruksi Verba Beruntun Bahasa Melayu Klasik Kajian Sintaksis dan Semantis.” Dosen Prodi Sastra Indonesia, FIB, Universitas Udayana ini lulus dengan predikat sangat memuaskan.Ia adalah Doktor ke-31 di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan Doktor ke-129 di lingkungan Prodi S3 Ilmu Linguistik Unud.

Dr. I Made Madia (kempat dari kiri) berfoto bersama pembimbing dan penguji.

Tim Penguji

Ketua Penguji dalam promosi doktor kali ini adalah Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A. Anggota penguji terdiri dari Prof. Ketut Artawa, M.A., Ph.D. (Promotor); Prof. Dr. I Ketut Darma Laksana, M.Hum. (Kopromotor II); Prof. Dr. Aron Meko Mbete; Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A.; Prof. Dr Ida Bagus Putra Yadnya, M.A.; Prof. Dr. I Wayan Simpen, M.Hum.; dan Dr. Ni Made Dhanawaty, M.S.

Para penguji.

Kemampuan Internal Bahasa Melayu

Dalam disertasinya, Made Madia memaparkan bahwa bahasa Melayu merupakan cikal bakal bahasa Indonesia. Sejak ditemukannya prasasti berbahasa Melayu Kuna pada abad VII sampai sekarang, bahasa Melayu telah menunjukkan kemampuan internal untuk menerima pengaruh peradaban global dari agama/budaya Hindu, agama/budaya Islam, dan budaya iptek.

Para undangan dari kalangan keluarga.

“Bahasa Melayu, kini bahasa Indonesia, berjalan seiring mengikuti pesatnya perkembangan iptek mutakhir. Oleh karena itu, pemahaman terhadap salah satu aspek bahasa Melayu pada masa lampau, dalam hal ini bahasa Melayu klasik, menjadi penting untuk merancang arah pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia,” ujar I Made Madia dalam presentasinya.

Penggunaan kalimat yang panjang dalam teks bahasa Melayu klasik seperti dalam teks monumental Sedjarah Melaju (abad XVI) menggambarkan kerumitan gagasan yang mampu diekspresikan dalam bahasa Melayu yang egaliter pada masa itu. Banyak kalimat diekspresikan dengan rangkaian verba (dua sampai empat verba) tanpa kehadiran kata penghubung.

Para undangan.

“Dari perspektif keilmuan fenomena ini menarik dikaji untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif. Konstruksi verba beruntun didefinisikan sebagai keberadaan (minimal) dua verba di dalam satu konstruksi tanpa kehadiran konjungtor sebagai penghubung dan penanda jeda (tanda koma),” jelasnya dosen yang meraih gelar master Linguistik di Universitas Indonesia.

Temuan

I Made Madia memaparkan bahwa berdasarkan kerangka teori yang diacu (teori tipologi verba serial dan teori tata bahasa transformasi), terbukti bahwa rangkaian verba di dalam bahasa Melayu klasik teridentifikasi sebagai kalimat sederhana dan kalimat kompleks.

“Berdasarkan ciri sintaktis, semantis, dan fonologis, rangkaian verba+verba berkecenderungan sebagai verba serial, yakni konstruksi kalimat sebagai satu S+P. Konstruksi verba+konstituen bahasa selain kata penghubung+verba berkecenderungan sebagai konstruksi kompleks, yakni konstruksi dengan minimal dua S+P.”

Dr. I Made Madia.

“Terkait dengan kajian ini, perlu adanya kajian komparatif konstruksi verba beruntun di dalam bahasa Melayu klasik dan bahasa Indonesia. Langkah ini bertujuan untuk mengetahui pemertahanan ciri pokok bahasa Melayu/bahasa Indonesia sebagai potensi pengembangan berbagai model ekspresi (standar/ nonstandar) dalam bentuk konstruksi kompleks yang berupa rangkaian verba.

Lahan Kajian Potensial

Dalam perspektif yang lebih luas, menurut Made Madia, teks yang berbahasa Melayu klasik merupakan lahan kajian yang potensial tidak hanya dari aspek kebahasaan, tetapi juga kajian di bidang sastra, filologi, hukum, sejarah, arkeologi, dan kajian bidang humaniora lainnya.

Ringkasan disertasi Dr. Made Madia.

“Bagi publik, utamanya guru bahasa Indonesia, kajian ini dapat menjadi panduan dalam hal interpretasi makna terhadap kalimat yang bersusunan kompleks. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat dimanfaatkan untuk melatih siswa mengekspresikan pikiran yang kompleks dengan konstruksi kalimat kompleks yang baik dan benar.

“Latihan pemahaman dan pengekspresian makna/pikiran dalam struktur kompleks bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat intelektualitasnya dalam hal pengembangan budaya menulis,” tuturnya.

Promotor Prof. I Ketut Artawa.

Makna Disertasi

Promotor Prof. Ketut Artawa dalam sambutannya menyampaikan pujian atas hasil analisis mahasiswa bimbingannya. “Analisis mengenai bahasa Melayu klasik amat dalam dan bermanfaat dalam kajian sintaksis dan semantik,” ujarnya.

Prof. Artawa memuji ketekunan dan kesetiaan Made Madia dalam meneliti, mencintai topik risetnya melebihi segalanya.

“Saya ucapkan selamat sudah bisa menyelesaikan program doktor sekarang ini. Sebagai promotor, saya sungguh berbahagia,” ujar Kordinator Prodi S-3 Linguistik FIB Unud ini.

Pada kesempatan itu, Prof Artawa juga menyampaikan selamat kepada keluarga Made Madia yang hadir dan ikut berbahagia dalam acara promosi doktor (Ida Ayu Laksmita Sari).