Dosen Universitas Ganesha Singaraja Raih Gelar Doktor Linguistik di FIB Universitas Udayana

Dr. Eva Krishna Adnyani (tengah) berfoto bersama para penguji usai ujian promosi doktor, Rabu, 24 Januari 2018 (Foto-foto Ida Ayu Laksmita Sari).

Program Studi Doktor (S3) Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Udayana menggelar Promosi Doktor atas nama Kadek Eva Krishna Adnyani, S.S., M.Si, Rabu, 24 Januari 2018 bertempat di ruang Ir. Soekarno kampus setempat.

Eva Krishna Adnyani berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Joseigo dan Pergeserannya pada Wanita Jepang di Ubud”. Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang, Universitas Pendidikan Ganesha ini lulus dengan predikat sangat baik.Ia merupakan Doktor ke-30 di lingkungan FIB Unud dan Doktor ke-128 di lingkungan Prodi (S3) Ilmu Linguistik.

Tim Penguji

Ketua penguji dalam Promosi Doktor kali ini adalah Dekan FIB Universitas Udayana, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. Anggota penguji terdiri dari Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A. (Promotor); Prof. Dr. Ida Bagus Putra Yadnya, M.A.; Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A.; Prof. Dr. I Wayan Simpen, M.Hum.; I Nyoman Udayana, M.Litt., Ph.D.; Dr. Ni Made Dhanawaty, M.S.; Dr. I Gusti Ayu Gde Sosiowati, M.A.; dan Dr. Ni Wayan Sukarini, M.Hum.

Promotor Prof. Dr. I Made Budiarsa,M.A. bersama doktor baru, Dr. Eva Krishna Adnyani.

Joseigo, Ragam Bahasa Wanita Jepang

Masyarakat penutur bahasa Jepang mengenal adanya danseigo (ragam bahasa pria) dan joseigo (ragam bahasa wanita) yang dapat dibedakan dari fitur-fitur pembeda.

“Pada fitur linguistik misalnya, pronomina persona, partikel akhir kalimat, dari sana kita dapat melihat apakah kalimat tersebut merupakan joseigo (ragam bahasa wanita) atau danseigo (ragam bahasa pria) atau pun ragam bahasa netral,” jelasnya.

Dr. Eva Krishna Adnyani

Pada disertasinya, Eva Krishna mengkaji penggunaan joseigo pada wanita Jepang di Ubud, pergeseran penggunaan joseigo, dan faktor-faktor yang memengaruhi pergeseran penggunaan joseigo tersebut.

Eva mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan pergeseran dalam penggunaan joseigo.

“Ada dua faktor. Pertama, dari segi penutur termasuk usia. Kedua dari segi situasi meliputi mitra tutur, topiknya dan lain sebainya,” tandas alumni Magister Kajian Wilayah Jepang UI ini.

Para udangan.

Eva memilih lokasi penelitian di Ubud dilatarbelakangi beberapa hal diantaranya, di daerah tersebut tinggal wanita-wanita Jepang yang memiliki usia dan latar belakang yang bervariasi, terdapat informan yang memang tinggal di Ubud antara satu hingga lima belas tahun, dan informan memiliki komunitas, salah satunya adalah komunitas tukar buku di Ubud tempat berkumpulnya diaspora wanita jepang ini.

Temuan

Penelitian Eva mengenai joseigo dan pergeserannya pada wanita Jepang di Ubud menghasilkan empat temuan, yaitu (1) terjadi pergeseran yang mengarah dari ragam Bahasa wanita ke ragam Bahasa netral pada tuturan wanita Jepang di Ubud, (2) istilah joseigo sudah tidak sesuai untuk menggambarkan variasi gaya ujaran yang digunakan wanita Jepang masa kini, (3) terdapat kategorisasi 2 jenis tuturan feminin, yakni tuturan feminine tradisional dan tuturan feminine modern, dan (4) pemicu pergeseran penggunaan joseigo pada wanita Jepang di Ubud adalah modernisasi dan globalisasi.

Para undangan.

Makna Disertasi

Promotor, Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A. dalam makna disertasi mengungkapkan bahwa joseigo itu terjadi karena adanya stratifikasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat, partisipan, dan peranan juga sangat menentukan.

Joseigo ini berpusat pada partisipan, namun mengalami perubahan karena situasi sosial dan juga siapa partisipan, apakah formal dan tidak formal. Penggunaan joseigo terjadi dalam ranah keluarga, kekariban, dan ranah sosial,” jelas Prof. Budiarsa.

“Walaupun penelitian ada di daerah Bali khusunya Ubud, mereka sangat fanatik menggunakan joseigo dikalangan mereka, walaupun adanya sedikit pergeseran, salah satu contohnya dalam penggunaan pronomina,” tambahnya.

Promotor Prof. Budiarsa.

Kagum

Dekan FIB, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. selaku ketua sidang mengungkapkan kekagumannya akan hasil penelitian Dr. Eva Krishna karena penelitian Doktor Eva melalui perspektif sosialisasi bahasa telah menunjukkan ciri khas bahasa perempuan Jepang.

“Penelitian Doktor Eva secara kongkrit menjelaskan banyak hal di antaranya diaspora, perempuan Jepang yang tinggal di Bali, ciri-ciri adopsi dari budaya Bali sehingga pemakaian ragam bahasa tersebut mengalami sedikit pergeseran,” ujar Prof Sutji (Ida Ayu Laksmita Sari).