Dosen Arkeologi I Nyoman Wardi Raih Gelar Doktor Kajian Budaya di FIB Unud

Promotor Prof. Dr. I Wayan Ardika,M.A. menyerahkan sertifikat kelulusan kepada doktor baru Dr. I Nyoman Wardi,M.Si. (Foto-foto Dedi).

Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Udayana menggelar Promosi Doktor atas nama Drs. I Nyoman Wardi, M.Si., Jumat, 19 Januari 2018, bertempat di Aula Widya Sabha Mandala kampus setempat.

I Nyoman Wardi berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Marjinalisasi Kearifan Lingkungan Kosmologis Warisan Budaya Pura Batukaru-Pakendungan di Kabupaten Tabanan Bali”.Dosen Arkeologi FIB Unud ini lulus dengan predikat sangat baik. Ia adalah Doktor ke-29 di lingkungan FIB Universitas Udayana dan Doktor ke-203 di lingkungan Prodi S3 Kajian Budaya.

Para penguji.

Tim Penguji

Ketua Penguji pada promosi doktor kali ini adalah Dekan FIB Universitas Udayana, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. Anggota penguji terdiri dari Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A. (Promotor); Prof. Dr. A.A. Ngr. Anom Kumbara, M.A. (Kopromotor I); Dr. Industri Ginting Suka, M.S. (Kopromotor II), Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A.; Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, S.U.; Prof Dr. Ing. Ir. I Made Merta; Dr. I Nyoman Dhana, M.A.; dan Dr. I Wayan Suwena, M.Hum.

Doktor Nyoman Wardi berfoto bersama penguji usai ujian promosi doktor.

Warisan Budaya Pura Batukaru-Pakendungan

Dalam presentasinya saat ujian terbuka, Nyoman Wardi menyampaikan bahwa warisan budaya Batukaru-Pakendungan sebagai identitas budaya etnis Bali yang bercorak Hindu di dalamnya terkandung berbagai simbol.

“Simbol tersebut adalah simbol yang terkait dengan nilai sejarah, religi, seni budaya, klen, mitos, aspek ekonomi, struktur sosial, politik serta berbagai kearifan lingkungan. Pada sisi lain, eskalasi pembangunan dan perubahan aspek sosial budaya dan lingkungan yang begitu cepat dan dinamis yang digerakkan oleh arus globalisasi melalui industri pariwisata,” jelas Dosen Prodi Arkeologi FIB Unud yang pernah menjadi pemandu wisata ini.

Dr. I Nyoman Wardi,M.Si.

Dalam disertasinya I Nyoman Wardi membahas karakteristik struktur kosmologis Pura Batukaru-Pakendungan, potensi kearifan lingkungan yang terkandung dalam struktur kosmologis Pura Batukaru-Pakendungan, dan marjinalisasi kearifan lingkungan dan ideologi yang melatari.

Marginalisasi Kearifan Lingkungan

Telah terjadi marginalisasi kearifan lingkungan di kawasan hulu (kawasan kosmologis Catur Angga Pura Batukaru) khususnya di situs Pura Pucak Petali maupun di hilir (pesisir), yaitu di situs Pura Pakendungan oleh pembangunan fasilitas pariwisata. Pembangunan tersebut juga berkonsuekensi pada munculnya konflik sosial yang bersifat horizontal dan vertikal.

“Penyebab terjadinya marjinalisasi kearifan lingkungan, yaitu komodifikasi warisan budaya yang didukung oleh sikap pragmatisme disertai dengan permisifisme dari agen elit pengempon pura, elit desa yang cenderung berafiliasi dengan agen elit politik pemerintah daerah dan dengan agen kapitalis,” tandas alumni S2 Prodi Ilmu Lingkungan Universitas Gadjah Mada ini.

“Di balik perubahan sikap konservatif ke sikap pragmatis dan permisif elit pengempon pura dan elit desa, serta sikap neoliberal dari para kapitalis yang didukung oleh agen elit politis birokratis, tampaknya ideologi pariwisata memainkan peran penting,” tambahnya.

Temuan

Salah satu temuan dalam disertasi I Nyoman Wardi adalah telah terjadi kontra pembangunan (development paradox), baik di kawasan hulu maupun hilir Kabupaten Tabanan, karena warisan budaya kosmologis Batukaru-Pakendungan yang sarat mengandung nilai kearifan lingkungan termajinalkan oleh proyek pembangunan fisik fasilitas pariwisata yang kapitalis, karena etika lingkungan tidak dijadikan panduan dalam merancang dan dalam praktik pembangunan tersebut.

Undangan yang hadir dalam ujian terbuka.

Makna Disertasi

Promotor, Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A. dalam sambutan mengenai makna disertasi menyampaikan bahwa Dr. I Nyoman Wardi adalah sosok yang sangat tekun, rajin, berfikir renik sehingga disertasi menjadi sangat tebal dan banyak hal-hal yang sesungguhnya belum tuntas diungkap dalam disertasi terkait dengan marjinalisasi warisan budaya Pura Batukaru-Pakendungan.

Pada disertasi I Nyoman Wardi telah dinyatakan bahwa terjadi marjinalisasi kearifan lingkungan di Tabanan. Hal itu sebetulnya tidak lepas dari ciri manusia itu sendiri, yaitu sebagai homoeconomicus. Manusia cenderung ingin memperoleh material yang lebih dan mencari lagi.

”Di era global ini keserakahan, hasrat manusia untuk mengumpulkan materi yang berlebih itu tampaknya didukung oleh kemajuan teknologi sehingga manusia menjadi arogan, merasa paling menguasai (antroposentrisme). Manusia abai terhadap makhluk lain yang sebenarnya mempunyai hak yang sama dalam kehidupan di dunia ini,” ujar Prof. Ardika.

Tanya jawab dari hadirin.

Homoeconomicus inilah yang sesungguhnya menyebabkan marginalisasi lingkungan, terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap kearifan-kearifan lingkungan yang telah diwarisi oleh masyarakat Bali sejak dahulu,” tambah guru besar arkeologi Unud ini.

Ujian berlangsung lancar dihadiri undangan yang terdiri dari mahasiswa S-3 Kajian Budaya dan S-3 Linguistik, para dosen, dan undangan lainnya (Ida Ayu Laksmita Sari).