Dosen Universitas Flores Raih Gelar Doktor Linguistik di Fakultas Ilmu Budaya Unud

Doktor Veronika Genua, S.Pd., M.Hum. (tengah) berfoto bersama penguji usai ujian terbuka, Rabu, 17 Januari 2018 (Foto-foto Ida Ayu Laksmita Sari).

Program Studi Doktor (S3) Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Udayana menyelenggarakan Promosi Doktor atas nama Veronika Genua, S.Pd., M.Hum., Rabu, 17 Januari 2018, bertempat di ruang Ir. Soekarno kampus setempat.

Veronika yang bekerja sebagai dosen di Universitas Flores berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Ekoleksikon Nijo pada Guyub Tutur Lio Flores”. Veronika lulus dengan predikat istimewa (cum laude). Ia merupakan doktor ke-28 di lingkungan FIB Unud dan doktor ke-127 di lingkungan Prodi S3 Linguistik.Tim Penguji

Ketua Penguji pada ujian kali ini adalah Dekan FIB Universitas Udayana, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. Anggota Penguji terdiri dari Prof. Dr. I Wayan Simpen, M.Hum. (Promotor); Prof. Dr. Aron Meko Mbete (Kopromotor I); Prof.Dr. Ida Bagus Putra Yadnya, M.A. (Kopromotor II), Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A.; Prof. Dr. I Ketut Darma Laksana, M.Hum.; Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A.; Dr. I Made Netra, M.Hum.; dan Dr. A.A. Putu Putra, M.Hum.

Promotor Prof. Dr. I Wayan Simpen, M.Hum. memberikan sertifikat tanda lulus kepada Dr. Veronika Genua, S.Pd., M.Hum.

Ekoleksikon Nijo

Veronika dalam disertasinya berusaha mengungkap fenomena kebahasaan yaitu ekoleksikon nijo pada guyub tutur Lio Ende Flores. Ekoleksikon nijo merupakan doa dan pengobatan secara tradisional yang merupakan warisan budaya leluhur.

“Ekoleksikon ini sudah menyatu dengan kehidupan guyub tutur Lio Ende Flores. Setiap kata atau frasa yang diucapkan memiliki kekuatan atau energi penyembuhan dari suatu penyakit yang dilakukan oleh ata bhisa ‘dukun’,” jelas Veronika.

Veronika mengkaji ekoleksikon yang terdapat dalam pengobatan tradisional pada guyub tutur Lio Flores, bentuk dan struktur satuan lingual, dinamika pengetahuan, pemahaman, praktik sosial antargenerasi tentang ekoleksikon nijo, serta ideologi yang terdapat di balik ekoleksikon tersebut.

Leksikon yang Memiliki Fungsi Magis

Bentuk-bentuk lingual pada teks nijo ‘doa pengobatan’ tradisional memiliki ciri fonologis seperti unsur segmental dan suprasegmental, asonansi, dan aliterasi. Selain itu terdapat pula ciri morfologis, seperti nomina, verba, dan numeralia dan ciri semantik seperti antonim.

Pada sesi tanya jawab, lulusan FKIP, Universitas Flores ini memberikan sebuah contoh teks yang diucapkan dalam sesi pengobatan yang terkait dengan ekoleksikom suprasegmental yang memiliki fungsi magis.

Para undangan.

Contoh teks tersebut yaitu Nitu Pai Tana Watu dengan penekanan suprasegmental pada huruf ū pada kata Nitū dan Watū, sehingga jika diucapkan menjadi Nitū Pai Tana Watū, yang memiliki arti ‘saya memohon kepada penguasa alam semesta yang memiliki daya kekuatan atau roh untuk bisa menyembuhkan pasien yang sedang saya obati’.

Strategi Melestarikan Ekoleksikon

Veronika Genua menjelaskan hal yang akan dilakukan untuk melestarikan pengetahuan ekoleksikon ada tiga. Pertama, membuat glosarium atau kamus kecil mengenai kosa kata hingga cara pengobatan baik verba maupun nomina.

Kedua, membuat bahan ajar sederhana untuk mahasiswa mengenai pengetahuan lingkungan, jenis tanaman, serta pengobatan yang dilakukan. Ketiga, memperkenalkan leksikon-leksikon Bahasa daerah kepada murid sekolah dasar.

Bersama teman-teman sekuliah (foto FB).

Temuan

Temuan Veronika berupa temuan konseptual dan temuan empiris. Temuan konseptualnya adalah dimensi kosmologis yang merupakan dimensi tambahan dari tridimensi pada kajian ekolinguistik (dimensi ideologis, biologis, dan sosiologis).

Dimensi kosmologis berkaitan dengan sistem kekuatan jagat raya melalui kuasa yang Ilahi. Dimensi kosmologis menggambarkan adanya hubungan transedental guyub tutur Lio-Flores dengan embu mamo ‘para leluhur’ dan nitu pai tana watu ‘penguasa alam semesta’.

“Semua kehidupan bersumber dari Dua Ngga’e ‘Maha Pencipta’ sebagai penentu kehidupan di dunia ini,” jelas alumni Magister Ilmu Linguistik Universitas Udayana ini.

Temuan empiris Veronika antara lain, terdapat berbagai bentuk nomina dan verba yang spesifik yang hanya diketahui oleh masyarakat tertentu dan juga ata bhisa ‘dukun’, contohnya leksikon toko sapi ‘tulang sapi’ dan taga kamba ‘tanduk kerbau’ yang merupakan ramuan yang hanya digunakan oleh dukun tertentu.

Selain itu, ramuan tradisional pada umumnya diramu dengan syarat tertentu, yakni angka ganjil, dengan pertimbangan keahlian atau kekuatan dimiliki yang merupakan warisan dari para leluhur dan juga lewat jamahan yang disampaikan melalui mimpi.

Prof. Dr. I Wayan Simpen, M.Hum. saat menyampaikan sambutan makna disertasi.

Makna Disertasi

Promotor Prof. I Wayan Simpen dalam sambutannya memuji kerja keras Veronika dalam mengadakan penelitian dan penulisan disertasinya.

“Berkat kerja keras dan masukan dari pembimbing dan para penguji, Veronika dapat menghasilkan disertasi yang baik,” ujar Prof. I Wayan Simpen.

Prof. Simpen memberikan uraian ringkas tentang makna disertasi mahasiswa bimbingannya.

“Penelitian Veronika memiliki makna penting dalam kajian ekolinguistik karena menambah satu lagi tridimensi ekolinguistik yang terdiri dari dimensi ideologis, biologis, dan sosiologis, menjadi empat dengan menambah dimensi kosmologis,” ujar Prof. I Wayan Simpen yang sehari-hari Sekretaris Prodi Magister Linguistik FIB Unud.

Prof. Simpen berharap agar Veronika tidak saja berhenti menyusun daftar kata atau glosarium tetapi juga menulis kamus bahasa pengobatan.

Output-nya berupa disertas sudah tercapai, tapi kami menunggu out come-nya berupa pulikasi lain termasuk kamus,” ujar Prof. Simpen.

Budaya Mutu

Dekan FIB Prof. Sutjiati Beratha juga memuji disertasi Veronika karena mendapat nilai tinggi yang menandakan riset dan kajiannya bermutu.

“Kami di FIB selalu menjaga mengutamakan budaya mutu,” ujar Prof. Sutjiati Beratha. Beliau berharap agar Veronika bisa meneruskan kajian disertasinya untuk menghasilkan kamus pengobatan. 

Bersama keluarga.

Undangan

Ujian promosi doktor diikuti dosen dan mahasiswa FIB Unud.  Selain itu, hadir juga sejumlah undangan istimewa.

Undangan istimewa yang turut hadir pada ujian terbuka kali ini adalah Wakil Ketua DPRD NTT, Ketua Ombudsman Bali, Wakil Rektor II Universitas Flores, utusan Yapertif, Ketua Flobamora Bali, Ketua Sang Dewi Flobamora Bali (Ida Ayu Laksmita Sari)