Dosen STIKOM Bali Raih Gelar Doktor Linguistik di FIB Universitas Udayana

Doktor baru Dian Rahmani Putri (tengah) berfoto bersama setelah ujian terbuka, 12 Januari 2018.

Program Studi Doktor (S3) Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Udayana menyelenggarakan Promosi Doktor dengan promovenda Dian Rahmani Putri, S.S., M.Hum., Jumat, 12 Januari 2018, di ruang Ir. Soekarno kampus setempat.

Dian Rahmani Putri yang bekerja sebagai dosen di STIMIK STIKOM Bali berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Kata Kolok Di Desa Bengkala, Buleleng, Bali”. Promovenda dinyatakan lulus dengan predikat sangat baik. Dr. Dian Rahmani Putri merupakan doktor ke-126 di lingkungan Prodi S3 Linguistik.

Tim Penguji

Ujian terbuka ini dipimpin oleh Dekan FIB, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. Sementara ketua tim penguji adalah Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A.

Anggota penguji terdiri dari Prof. Dr. I Gusti Made Sutjaja, M.A (Promotor); Prof. Dr. Aron Meko Mbete (Kopromotor I); Prof. Dr. I Wayan Pastika, M.S.; Prof. Dr. I Wayan Rasna, M.Pd.; Dr. Made Sri Satyawati, S.S.,M.Hum.; dan Dr. Drs. I Putu Sutama, M.Si.

Prof. Dr. I Gusti Made Sutjaja, M.A., selaku promotor mengenakan toga pada Dr. Dian Rahmani Putri, S.S., M.Hum.

Warga Kolok di Desa Bengkala

Kata Kolok di Desa Bengkala, Kabupaten Buleleng, merupakan sebuah tanda bahasa yang secara alami digunakan oleh masyarakat tuli-bisu masyarakat setempat. Komunitas tuli-bisu di Desa Bengkala merupakan masyarakat asli Desa Bengkala yang sejak lahir sudah mengalami tuli-bisu.

Meski memiliki kekurangan, masyarakat kolok ini tidak pernah dikucilkan oleh masyarakat Desa Bengkala yang lahir normal. Masyarakat kolok ini selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan desa sesuai dengan potensi mereka.

Undangan ikut bertanya dalam ujian tebruka.

Warga kolok Desa Bengkala adalah orang yang memiliki kepercayaan diri cukup baik, inilah akibat dari penerimaan warga normal yang hangat dan penuh perhatian pula pada mereka.

“Warga normal selalu berusaha untuk memahami apa yang coba disampaikan oleh warga kolok,” ujar Dian Putri.

Apabila terjadi ketidakpahaman dalam percakapan, menurut Dian, biasanya warga kolok akan mencoba untuk menjelaskan, baik dengan teks isyarat deskriptif maupun refren atau acuan yang ditujukan dengan wujud nyata yang dimaksud.

Warga kolok di Desa Bengkala juga mendapatkan perhatian  khusus di bidang pendididkan yakni disediakan Sekolah Dasar Inklusi bagi penyandang tuli-bisu agar bisa berbaur dengan anak-anak sekolah yang normal.

Para undangan lainnya.

Kata Kolok Sebagai Bahasa Isyarat Alami

Dalam disertasinya, Dian Putri menyampaikan, kata kolok secara alamiah digunakan di Desa Bengkala secara khusus oleh warga tuli-bisu itu sendiri maupun juga warga desa yang normal. Hal ini tidak terlepas dari kebutuhan komunikasi dan karakter seluruh warga desa yang terbuka di antara warga desa tersebut. Dengan pengisyarat yang berjumlah kurang lebih 1200 orang, 43 orang di antaranya adalah penduduk asli tuli-bisu.

Ringkasan disertasi.

Tipologi dasar kata kolok secara umum diawali dengan isyarat yang menunjukkan makna verba. Dalam beberapa kasus diawali dengan isyarat makna penunjuk waktu terutama yang menerangkan aktivitas lampau.

Makna tanda kata kolok  dapat dikelompokkan menjadi delapan yaitu makna penunjuk orang, makna modalitas, makna yang berhubungan dengan agama, makna yang berhubungan dengan adat istiadat, makna yang berhubungan dengan budaya, makna yang berhubungan dengan kebutuhan bertahan hidup, makna yang berhubungan dengan perasaan, dan makna penunjuk waktu.

“Terdapat pula variasi tanda pada kata kolok untuk berbagai makna. Selain variasi tanda, juga terdapat fenomena homosain dan polisain,” ujar Dr. Dian Putri.

Dekan FIB sekaligus ketua sidang ujian promosi doktor Prof. Sutjiati Beratha,M.A. memberikan ucapan selamat kepada doktor baru.

Makna Disertasi

Promotor Prof. Dr. I Gusti Made Sutjaja, M.A dalam kesempatan menyampaikan makna disertasi Dian bagi kemajuan dunia pendidikan, khususnya pendidikan inklusi.

“Saya salut dengan keuletan Dian dalam mengerjakan penelitian ini. Harapan saya, bahwa Dian akan serius untuk menyelesaikan kamus kata kolok, sehingga memberikan sebuah sumbangan yang besar pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan inklusi,” ujar Prof. Sutjaja.

Ditambahkan, penelitian Dian ini mampu membuka kesempatan bagi penderita tuli-bisu untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Karena dari penelitian ini, jika dikembangkan dan direkomendasikan pada stakeholder khususnya pemegang kebijakan publik (I Gede Gita Purnama A.P)