Dosen STIBA Mentari Kupang Raih Gelar Doktor Linguistik di FIB Universitas Udayana

Promotor Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha,M.A. memberikan sertifikat kelulusan kepada doktor baru Efron Erwin Yohanis Loe (Foto-foto Ida Ayu Laksmita Sari).

Program Studi Doktor (S3) Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Udayana menyelenggarakan Promosi Doktor atas nama Efron Erwin Yohanis Loe, S.S., M.Hum., Rabu, 10 Januari 2018 bertempat di ruang Ir. Soekarno kampus setempat.

Efron berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Morfologi Bahasa Rote Dialek Dengka: Kajian Morfologi Generatif”. Efron lulus dengan predikat sangat baik. Ia adalah Doktor ke-26 di lingkungan FIB Unud dan Doktor ke-125 di lingkungan Prodi S3 Linguistik.Tim Penguji

Ketua Penguji sekaligus Promotor pada ujian terbuka kali ini adalah Dekan FIB, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. Anggota Penguji terdiri dari Prof. Dr. I Ketut Darma Laksana, M.Hum. (Kopromotor I); Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A.; Prof. Dr. Aron Meko Mbete; Prof. Ketut Artawa, M.A., Ph.D; Prof. Dr. I Wayan Simpen, M.Hum.; Dr. Made Sri Satyawati, M.Hum.; dan Dr. Ni Made Dhanawaty, M.S.

Doktor baru Efron Erwin Yohanis Loe (tengah) berfoto bersama penguji.

Bahasa Rote Dialek Dengka

Bahasa Rote yang digunakan oleh masyarakat di Pulau Rote, NTT terdiri atas delapan belas variasi dialek. Delapan belas variasi dialek Bahasa Rote merupakan nama dari bekas kerajaan-kerajaan kecil pada zaman Belanda, yaitu Termanu, Korbafo, Landu, Ringgou, Oepao, Bilba, Diu, Lelenuk, Bokai, Talae, Keka, Ba’a, Lelain, Dengka, Oenale, Dela, Tii, dan Lole.

Penelitian Efron memfokuskan pada salah satu dari dialek tersebut yaitu dialek Dengka pada proses morfologis, yaitu afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan.

Efron mengungkapkan alasan utama pemilihan dialek tersebut secara akademik dan sebagai penutur.

Doktor baru Efron Erwin Yohanis Loe.

“Saya sebagai penutur asli Bahasa Rote Dialek Dengka dan didorong oleh ilmu pengetahuan yang dimiliki, ingin memperkenalkan proses morfologis yang ada dengan segala kaidah dan keunikannya,” jelas Dosen Tetap STIBA Mentari Kupang ini.

Peserta undangan ujian terbuka.

Dia juga berharap agar penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pelestarian dan pemertahanan Bahasa-bahasa daerah di tanah air untuk menyelamatkan dari kepunahan.

“Saya berjuang agar Bahasa Rote dapat menjadi muatan lokal dalam pengajaran sekolah,” ujarnya.

Keunikan Bahasa Rote Dialek Dengka

Bahasa Rote Dialek Dengka ini memiliki keunikan khususnya yang terkait dengan kajian morfologi, salah satunya adalah terdapat kata secara morfologis dalam proses reduplikasi yang dibentuk dari reduplikasi sebagian kemudian disusul reduplikasi penuh.

“Contohnya kata tutu yang berarti ‘pukul’ akan mengalami proses reduplikasi sebagian menjadi tututu ‘pukul berulang’ dan terakhir mengalami reduplikasi penuh menjadi tututu tututu yang memiliki arti ‘pukul berulang dan berulang’ (seperti menganiaya),” jelas Alumni Universitas Nusa Cendana Kupang ketika menjawab pertanyaan dari tim penguji.

Peserta undangan ujian terbuka.

Temuan

Temuan Efron salah satunya adalah temuan teoritis. Temuannya berupa modifikasi atau pengembangan dari teori sebelumnya yaitu ‘Word- Based Morphology’ yang dipelopori oleh Aronoff (1979).

“Dalam teori utama komponen leksikal terdiri atas ‘Kamus’ dan KPK. Teori baru yang saya kembangkan terdiri atas ‘Kamus’, ‘Proses Pembentukan Kata’ (PPK), ‘Hasil Pembentukan Kata’ (HPK), ‘Kaidah Fonologi’ (KF), dan ‘Komponen Sintaksis (KS).

Makna Disertasi

Promotor Efron, yaitu Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha M.A. dalam makna disertasi menyampaikan bahwa Doktor baru ini adalah sosok yang ulet, cerdas, disiplin, yang merupakan modal utama meraih kesuksesan.

“Setelah kembali ke STIBA Mentari Kupang besar harapan kami selaku tim Promotor Doktor baru ini tetap berkarya untuk mengkaji masalah-masalah kebahasaan baik dalam bidang linguistik mikro, makro ataupun terapan karena masih banyak kajian yang dapat dianalisis sesuai dengan bidangnya.”

Tim Promotor sangat bangga dengan pencapaian Doktor Efron karena temuan disertasi Efron dapat memperluas wawasan baik secara teoritis maupun praktis.

“Saya salut dengan kemauan Doktor Efron mengembangkan teori dari Professor yang sangat luar biasa. Efron mendapatkan 3 komponen baru, yaitu Hasil Pembentukan Kata, Kaidah Fonologi, dan Komponen Sintaksis. Dengan pengembangan teori tampaknya akan semakin mempermudah penggunaan teori tersebut,” ujar Prof. Sutji.

“Kami selaku tim promotor juga akan menunggu karya lainnya, karya-karya ilmiah termasuk buku yang dijanjikan Dr Efron,”tambah Prof. Sutji (Ida Ayu Laksmita Sari).