FIB Unud dengan Bodo Writers’ Academy India Gelar Seminar Budaya Bali-India

Dekan FIB Unud Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha,M.A. (tengah baju putih) berfoto bersama pembicara dan peserta dari Bodo, India, dalam International Seminar di FIB Unud, Sabtu, 6 Januari 2018 (Foto-foto FIB)

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana menggelar International Seminar Cum Literary Festival and Cultural Exchange dengan Bodo Writers’ Academy, Bodoland, India, Sabtu, 6 Januari 2018, di aula kampus setempat. Seminar diikuti sekitar 175 peserta, 50 di antaranya dari India.

Bodo Writers’s Academy adalah organisasi penulis tentang etnik Bodo. Anggotanya terdiri dari kalangan akademik, penulis kreatif, tak hanya dari India tetapi juga dari negara tetangga seperti Nepal dan Bangladesh.

Mereka datang ke Bali untuk pertama kalinya dan mengadakan kegiatan seminar dan pertukaran kebudayaan di Unud dan di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja. Selama di Bali, rombongan juga mengadakan perjalanan wisata ke Ubud.

WR IV Unud Prof. Dr. Ida Bagus wiyasa Putra saat membuka seminar didampingi Dekan FIB Unud Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha dan Ketua Panitia Dr. I Made Rajeg (paling kiri).

Seminar Budaya

Acara seminar yang difokuskan pada pengenalan budaya India dan Bali itu dibuka oleh Wakil Rektor IV Unud, Prof. Ida Bagus Wiyasa Putra, dihadiri Dekan FIB Unud Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. dan sejumlah dekan dari lingkungan Unud seperti Dekan Fakultas Hukum Unud dan Dekan Fakultas Pariwisata.

Dalam sambutannya, WR IV Prof. Ida Bagus Wiyasa Putra menyampaikan betapa pentingnya kebudayaan dalam kehidupan masyarakat. Hanya saja, katanya, ada perbedaan masyarakat dalam memberikan perhatian dan penekanan pada kebudayaan sesuai situasi dan kondisi.

Wakil Rektor IV Unud Prof. Ida Bagus Wiyasa Putra (Foto Darma Putra).

Ada yang menekankan pentingnya kebudayaan sebagai sumber pembentukan kebijakan (policy), manfaat ekonomi, mekanisme pertahanan, dan dasar identitas dalam tren globalisasi.

“Demikian pentingnya kebudayaan, maka penting sekali bagi masyarakat dan bangsa untuk mengontrol kebudayaan,” ujar guru besar ilmu hukum Unud itu.

Sehubungan dengan joint international seminar ini, WR IV yang antara lain membidangi kerja sama internasional berharap agar pertemuan ini bisa berlanjut sebagai kegiatan yang lebih besar dan bermanfaat untuk bidang pendidikan dan persahabatan kedua bangsa.

Tari Saraswati, maskot tari Fakultas Ilmu Budaya, dipentaskan saat acara pembukaan (Foto Darma Putra).

“Kita perlu menunjukkan kepada pemerintah bahwa perhatian dan kerja pada kebudayaan sangat penting dan perlu dukungan,” ujar Prof. Ida Bagus Wiyasa.

Berharap Berlanjut

Sejalan dengan harapan WR 4, Dekan FIB Prof. Sutjiati juga berharap kerja sama dengan Bodo Writers’ Academy bisa berlanjut dalam bidang penelitian dan publikasi.

“Ini bagian dari kerja sama internasional yang sudah banyak kita kerjakan sesuai dengan visi misi Unud,” ujar Dekan FIB Prof. Sutji.

Dekan FIB Unud Prof. Dr. Sutjiati Beratha bersama undangan dan peserta seminar (Foto Darma Putra).

“Kerja sama semakin bagus, tekad kami bukan saja pada level penyelenggaraan joint seminar, juga supaya ada publikasi bersama, joint research, student exchange dan lain-lainnya,” ujar Dekan FIB Unud yang tamatan ANU Australia itu.

Dekan menyampaikan ucapan terima kasih kepada Rektor dan WR 4 atas kepercayaan yang diberikan kepada FIB untuk melaksanakan seminar internasional dengan India ini.

Sajian kue tradisional Bali untuk kudapan (Foto Darma Putra).

“Karena temanya tentang bahasa dan budaya, makanya kami di FIB ditugasi menyukseskan,” ujar Prof. Sutji.

Selain menyiapkan pembicara dan segala acara, FIB juga dengan bangga mengundang tamu dari Bodo India untuk menyaksikan pameran naskah di perpustakaan lontar FIB.

“Mereka tertarik dengan aksara (script) jadi kepada mereka kami siapkan pameran lontar FIB,” ujar Prof. Sutji.

Enam Makalah

Seminar membahas enam makalah, tiga pembicara dari Unud dan tiga dari India. Tiga pembicara dari Unud terdiri dari guru besar arkeologi FIB Unud Prof. Dr. I Wayan Ardika,M.A. dengan makalah “The Beginning of India Contact with Bali“, guru besar Pertanian Unud Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta,M.Sc. dengan makalah “The Linkage of Agriculture and the Culture of Bali”, dan Prof. I Nyoman Darma Putra,M.Litt. dengan makalah “ The Role of Women Entreprenuers in Promoting Balinese Culinary and Supporting Sustainable Tourism”. Moderator untuk sesi pertama adalah Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A.

Pembicara dari Unud dari kiri Prof. I Nyoman Darma Putra, Prof. Dr. I Nengah Sudipa (moderator), Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta,M.Sc., dan Prof. I Wayan Ardika (Foto Dok FIB)

Dari Bodo Writers’ Academy menampilkan tiga makalah yaitu “Hinduisation of the Bodos” oleh Dr. Luke Daimary, “Rite of Passage in Meche Culture; Some Anthropological Observation” oleh Dr. Santa Lal Meche, dan “Social, Domestic life of Bodos” oleh Mr. Nabin Malla Boro. Moderator untuk sesi kedua adalah Dr. I Gusti Ayu Gde Sosiowati, M.A.

Moderator Dr. I Gusti Ayu Gde Sosiowati, M.A. (kiri) bersama pembicara dari Bodo (atas dan bawah)

Bodo adalah etnik kecil di India yang memiliki bahasa Bodo yang menggunakan huruf Devanagari. Sebelumnya, bahasa ini mempunyai aksara yang disebut Deodhai. Bahasa Bodo diakui sebagai salah satu dari 27 bahasa di India, berada dalam pengakuan urutan ke-21.

“Kami ingin mengembangkan bahasa Bodo secara sastra dan linguistik,” ujar Dr. Luke Daimary.

Diskusi Hangat

Diskusi berjalan hangat ditandai dengan pembicara dan hadirin memiliki keingintahuan yang sama untuk mengenal bahasa dan budaya masing-masing. Peserta dari Bali ingin mengetahui lebih jauh tentang etnik Bodo secara bahasa, budaya, sastra dan agama, sementara dari India juga ingin mengenal lebih jauh koneksi Bali-India di bidang budaya, perdagangan, bahasa, dan pariwisata.

Tari Pergaulan, Joged Bumbung.

Usai diskusi, acara diisi dengan hiburan tari-tarian Bali, termasuk joged bumbung. Peserta dari India berkesempatan untuk mengibing joged. Dari India, dipentaskan tari pergaulan “Bagurumba” lewat video.

Pameran Lontar dan Hiburan

Usai seminar, peserta dari Bodo diajak mengunjungi pameran lontar di Perpustakaan Lontar FIB Unud. Di sana, mahasiswa FIB membaca beberapa bait kakawin Ramayana dalam bahasa Jawa Kuna dan diartikan dalam bahasa Inggris.

Meninjau perpustakaan lontar (Foto Darma Putra).

Peserta kagum melihat semangat FIB melestarikan aksara dan sastra dalam pustaka tradisional. Mereka mendapat penjelasan jumlah koleksi, isi koleksi, dan manfaat perpustakaan untuk pengembangan sastra, bahasa, dan budaya.

Ketua Panitia seminar, Dr. I Made Rajeg menyatakan kegembiraan atas kelancaran acara berkat dukungan civitas FIB Unud dan peserta dari India (Ida Ayu Laksmita Sari).