Kepala Dinas Pemkab Tabanan Meraih Gelar Doktor Kajian Budaya FIB Universitas Udayana

Doktor baru I Gde Susila (keempat dari kanan) berfoto bersama para penguji usai ujian promosi doktor, Jumat, 22 Desember 2017 (Foto Ida Ayu Laksmita Sari).

Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana menggelar Promosi Doktor atas nama I Gede Susila, S.Sos, M.Si., Jumat 22 Desember 2017 di ruang Ir. Soekarno kampus setempat.

I Gede Susila yang menjabat sebagai Kadis Pendidikan dan Olah Raga Pemkab Tabanan itu berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pasang Surutnya Dukungan terhadap Warisan Budaya Dunia Subak Jatiluwih” dan lulus dengan predikat sangat baik. Ia adalah Doktor ke-25 di lingkungan FIB dan merupakan Doktor ke-202 di Prodi Doktor (S3) Kajian Budaya Unud.

Tim Penguji

Pada Promosi Doktor kali ini bertindak sebagai ketua penguji adalah Dekan FIB Unud, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A.

Anggota penguji terdiri dari Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A. (Promotor); Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. (Kopromotor I); Dr. I Nyoman Dhana, M.A. (Kopromotor II); Prof. Dr. I Made Suastika, S.U.; Prof. Dr. I Wayan Cika, M.S.; Dr. I Gusti Made Aryana, M.Hum.; Dr. I Wayan Winaja, M.Si; Dr. I Ketut Setiawan, M.Hum.; Dr. I Wayan Suwena, M.Hum.; dan Dr. I Gusti Made Ariawan;

Dukungan yang Pasang Surut

Sejak tahun 2012 kawasan Subak Jatiluwih ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD). Pada awalnya ada dukungan kuat dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat terhadap pelestarian kawasan Subak Jatiluwih sehingga kawasan subak ini ditetapkan sebagai WBD.

Wisatawan menikmati subak Jatiluwih (Foto Darma Putra).

Namun, setelah kawasan subak ini ditetapkan sebagai WBD, ternyata dukungan dari para pihak tersebut terlihat berkurang, bahkan muncul tindakan-tindakan yang kontroversial dengan gagasan utama yang ada di balik penetapan kawasan subak itu sebagai WBD, yakni melestarikan budaya lokal.

Ideologi Lokal dan Global

Menurut I Gede Susila, pasang surut dukungan terhadap Warisan Budaya Dunia Subak Jatiluwih dilatari oleh pemikiran para pihak terkait yang bernuansa ideologi lokal (Bali) dan ideologi global yang bersifat kapitalistik.

Doktor I Gede Susila (Foto Dedi).

Proses pasang surutnya dukungan terhadap WBD Jatiluwih bernuansa relasi kuasa antarpihak terkait. Dominasi dalam relasi kuasa tersebut terlihat dari koordinasi antarpihak instansi pemerintah serta antara pihak instansi pemerintah dengan masyarakat desa dan para petani Subak Jatiluwih.

“Jika dicermati tampaklah pasang surutnya dukungan terhadap WBD Subak Jatiluwih mengimplikasikan hal-hal yang penting untuk dikritisi,” ujar Gde Susila.

“Implikasinya itu adalah terjadinya kebijakan yang bersifat top down dalam pengusulan Subak Jatiluwih untuk dijadikan WBD serta dalam pengelolaannya setelah menjadi WBD, dan terjadi proses penginternasionalan atau pengglobalisasian Subak Jatiluwih hingga semakin terkenal di dunia,” jelas Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga Kabupaten Tabanan ini.

Temuan

I Gede Susila dalam presentasinya memaparkan dua temuan disertasinya. Pertama, bahwa peraturan yang sudah dinyatakan berlaku seperti Keputusan Gubernur, Keputusan Bupati, Peraturan Daerah tidak selalu terimplementasi sebagaimana mestinya.

Petani bekerja di Subak Jatiluwih (Foto Darma Putra).

Kedua, superstruktur ideologi tidak selalu menjadi pedoman yang menentukan struktur sosial dan infrastruktur sebagaimana diasumsikan dalam teori sosiokultural menurut Sanderson.

Saran kepada Pihak Terkait

Berdasarkan hasil penelitiannya, lulusan Program Magister Kajian Budaya Universitas Udayana ini mengajukan saran kepada pihak terkait, pertama motivasi dalam pengelolaan kawasan WBD Jatiluwih hendaknya mengutamakan kelestarian Subak Jatiluwih.

Kedua, dalam pengelolaan kawasan WBD Subak Jatiluwih hendaknya tidak semata-mata dilihat sebagai daya tarik wisata, melainkan kawasan WBD yang berdaya tarik wisata tinggi, oleh karena itu kawasan WBD tersebut tetap dilestarikan sehingga daya tarik wisatanya tetap tinggi.

Ketiga, Pengelolaan WBD Subak Jatiluwih yang pada dasarnya juga merupakan daerah tujuan wisata hendaknya mengutamakan prinsip keadilan secara nyata. Dengan demikian, WBD Jatiluwih dapat dipertahankan, sehingga memberikan kontribusi bagi pengelolaan kawaan WBD secara lebih luas melalui sinergi pemerintah dengan masyarakat dan pengusaha secara berkelanjutan.

Makna Disertasi

Promotor Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A. saat menyampaikan makna disertasi menyampaikan subak merupakan aset budaya Bali yang sangat berharga.

Promotor Prof. Ardhana (Foto Ida Ayu Laksmita Sari).

Namun demikian, dari berbagai penelitian yang ada, termasuk yang dilakukan oleh promovendus, subak tidak saja sebagai sistem irigasi untuk mengairi sawah dan berkumpulnya petani menjaga kepentingannya akan tetapi juga tempat berbagai kepentingan yang lebih luas dikompromikan dan dinegosiasikan, mulai dari kepentingan ideologi, jatidiri, identitas, kepentingan pariwisata, pendapatan, dan seterusnya.

Kepentingan, kompromi, dan negosiasi itu tampak pada kajian atas dinamika dukungan yang diberikan subak Jatiluwih sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO. Pasang surut dukungan itu merupakan tanda dinamisnya relasi masyarakat terhadap kehadiran subak.

“Ini semua tidak saja membuktikan subak masih hadir tetapi juga merupakan tempat berbagai kuasa, power, dikompromikan,” ujar Prof. Ardhana, yang juga Ketua Prodi S-3 Kajian Budaya.

Promotor Prof. Ardhana menyerahkan sertifikat kelulusan (Foto Dedi).

Saratnya kepentingan yang tampak dalam pelestarian subak menunjukkan subak sebagai aset budaya yang sangat penting dan masyarakat bertekad terus mempertahankan.

Sebagai aset budaya, Prof Ardhana menyampaikan. agar topik subak dijadikan muatan lokal pada mata pelajaran SD, SMP, SMA.

Hadirin saat ujian promosi doktor (Foto Dedi).

Lancar

Ujian terbuka promosi doktor disaksikan anggota senat FIB Unud, dosen, mahasiswa, dan undangan umum. Ujian berlangsung lancar diakhiri dengan penyerahan sertifikat kelulusan dan pengenaan toga kepada toktor baru (Ida Ayu Laksmita Sari).