Dosen STIBA Cakrawala Nusantara Kupang Raih Doktor Linguistik di FIB Universitas Udayana

Promotor Prof. Dr. I Made Budiarsa,M.A. mengenakan toga kepada doktor baru, Gregorius Sudaryono (Foto-foto Dedi).

Program Studi Doktor Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana menggelar ujian terbuka promosi doktor atas nama Drs. Gregorius Sudaryono, M.Hum., 20 Desember 2018 di ruang Ir. Soekarno kampus setempat.

Sudaryono lulus dengan predikat sangat baik dan merupakan lulusan ke-24 di FIB Unud dan ke-124 di Program Studi S3 Ilmu Linguistik.Sudaryono berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Situasi Kebahasaan pada Guyub Tutur di Kawasan Perbatasan Tetun-Dawan di Kabupaten Malaka dan Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur”.

Tim Penguji

Ketua penguji dalam promosi Doktor kali ini adalah Dekan FIB Universitas Udayana, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. Anggota penguji terdiri dari Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A. (Promotor); Prof. I Made Suastra, Ph.D. (Kopromotor I), Prof. Dr. Sinon Sabon Ola, M.Hum. (Kopromotor II); Prof. Dr. I Nyoman Suparwa, M.Hum.; Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A.; Prof. Dr. I Wayan Simpen, M.Hum.; Prof. Ketut Artawa, M.A., Ph.D.; Prof. Dr. Aron Meko Mbete dan Dr. Anak Agung Putu Putra, M.Hum.

Dr. Gregorius Sudaryono

Masyarakat Dwi Bahasa

Sudaryono mengkaji situasi kebahasaan pada guyub tutur di kawasan perbatasan Tetun-Dawan yang merujuk pada variabel-variabel kedwibahasaan dan pola-polanya, ranah penggunaan bahasa, pemilihan bahasa, dan sikap bahasa.

Dosen STIBA Cakrawala Nusantara Kupang ini menjelaskan dalam disertasinya bahwa situasi kebahasaan pada guyub tutur di kawasan perbatasan Tetun-Dawan memiliki beberapa keunikan.

Pertama, situasi kebahasaan merujuk pada fungsi Bahasa dalam masyarakat dengan kompleksitas etnis rendah, yakni etnis Tetun dan Dawan.

Kedua, guyub tutur Tetun dan Dawan di kawasan perbatasan mengisyaratkan masyarakat tradisional Timor.

Ketiga, istilah perbatasan Tetun-Dawan di kawasan itu juga menyiratkan batas Bahasa dan budaya Tetun-Dawan.

Sikap Bahasa Positif Penutur

Hasil penelitian Sudaryono mengungkapkan bahwa guyub tutur Tetun dan Dawan memiliki sikap positif bukan hanya terdapat dalam Bahasa Tetun dan Bahasa Dawan melainkan juga Bahasa Indonesia.

Sikap positif penutur terhadap Bahasa Tetun dan Bahasa Dawan menunjukkan upaya pemertahanan bahasanya sebagai lambang identitas etnis, dan menempatkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Kedua anggota guyub tutur itu dikondisikan untuk menguasai, dan menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian sesuai dengan ranah penggunaannya.

Promotor Prof. Dr. I Made Budiarsa,M.A. menyerahkan sertifikat kelulusan doktor baru, Gregorius Sudaryono.

“Penutur dikondisikan menggunakan Bahasa Tetun dan Bahasa Dawan pada ranah keluarga, ketetangaan, dan adat, sedangkan Bahasa Indonesia digunakan pada ranah pendidikan, keagamaan, dan pemerintahan,” jelas lulusan Magister Ilmu Linguistik Universitas Nusa Cendana ini.

Orientasi Instrumental dan Integratif

Pilihan Bahasa pada guyub tutur Tetun dan Dawan dipengaruhi oleh sikap Bahasa yang merujuk pada tingkat loyalitas penutur terhadap bahasanya.

“Fakta kebahasaan itu mengisyaratkan bahwa pilihan Bahasa dipengaruhi oleh sikap Bahasa penuturnya bukan hanya dalam dimensi loyalitas Bahasa, melainkan juga politik Bahasa dan ekonomi Bahasa. Dengan demikian, fakta kebahasaan menunjukkan bahwa penutur telah menempatkan Bahasa sebagai orientasi instrumental dan integratif,” tambahnya.

“Orientasi instrumental adalah orientasi yang mengacu pada penggunaan Bahasa yang jangkauannya lebih luas dan memiliki nilai tinggi secara ekonomis yang dapat memberikan kehidupan lebih baik bagi penuturnya. Orientasi integratif mengacu pada pengembangan diri secara integratif seperti keingintahuan terhadap pengembangan ilmu dan teknologi melalui Bahasa tertentu,” jelas lulusan Prodi Sastra Inggris Universitas Diponegoro ini.

Hadirin ujian terbuka promosi doktor.

Memperkaya Budaya Nasional

Penggunaan bahasa yang dipengaruhi oleh faktor politik bahasa mengisyaratkan perilaku berbahasa yang merujuk pada kebersamaan sesama etnis Timor untuk mengembangkan dan mempertahankan bahasanya. Dalam hal ini penutur memilih suatu bahasa dilatar belakangi oleh dorongan diterima atau sejajar dengan mitra tutur dalam peristiwa tutur.

Faktor politik Bahasa terkait dengan peran dan fungsi bahasa merupakan kebijakan Bahasa dalam skala kecil, kebijakan Bahasa daerah memicu guyub tutur di kawasan perbatasan Tetun-Dawan mempertahankan Bahasa sebagai lambang identitas dan budaya etnis yang bersangkutan untuk memperkaya budaya nasional (Ida Ayu Laksmita Sari).