Dosen Universitas Dhyana Pura, Dermawan Waruwu, Raih Gelar Doktor Kajian Budaya di FIB Unud

Dr. Dermawan Waruwu menerima sertifikat kelulusan dari promotor Prof. I Nyoman Darma Putra (kanan) usai ujian promosi doktor, Rabu, 22 November 2017.

Program Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Udayana menyelenggarakan Promosi Doktor atas nama Dermawan Waruwu, S.Th.,M.Si., Kamis, 23 November 2017 bertempat di aula kampus setempat.

Dermawan Waruwu dalam ujian promosi tersebut mempertahankan disertasi berjudul “Hegemoni dan Kontra-Hegemoni dalam Pengembangan Kawasan Wisata Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara”.Dermawan Waruwu berhasil lulus dan memperoleh pedikat “sangat memuaskan”. Ia menjadi doktor ke-22 di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Unud dan Doktor ke-200 di lingkungan Prodi Doktor (S3) Kajian Budaya FIB Unud.

Dermawan Waruwu (tengah) berfoto bersama penguji.

Tim Penguji

Ketua Pengujii adalah Dekan FIB Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha. Anggota penguji terdiri dari Prof. I Nyoman Darma Putra (promotor), Prof. AAN Ngurah Anom Kumbara (ko-promotor 1), Dr. I Gde Mudana (ko-promotor 2), Prof. AAB Wirawan, Prof. I Ketut Ardhana, Dr. Putu Sukardja, Dr. Ketut Setiawan, dan Dr. I Nyoman Dhana.

Konflik Kepentingan

Disertasi Dermawan Waruwu mengkaji hegemoni dan kontra-hegemoni dalam pengembangan kawasan wisata Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.

Dermawan menjelaskan bahwa daerah Bawomataluo memiliki daya tarik wisata budaya (cultural tourism) dan alam (natural tourism). Di balik keunikan seni budaya dan keindahan alamnya, daerah Bawomataluo ternyata kurang berkembang karena adanya konflik kepentingan antara pemerintah, masyarakat, dan pengusaha.

Dalam ujian terbuka, undangan ikut bertanya dan memberiikan komentar. Dalam gambar tampak Wakil Rektor I Universitas Dhyana Pura, Dr. IGB Rai Utama saat mengajukan pertanyaan.

“Konflik kepentingan menjadi latar belakang timbulnya praktik hegemoni dan praktik kontra-hegemoni dalam pengembangan kawasan wisata Bawomataluo, praktik inilah yang menjadi kendala dalam pengembangan kawasan wisata Bawomataluo selama ini,” jelas dosen Universitas Dhyana Pura Bali ini.

Hegemoni-Kontra Hegemoni

Dalam disertasinya, Dermawan Waruwu menjelaskan bahwa praktik hegemoni terlihat pada wacana pemerintah dalam pengembangan, kontrol pemerintah dalam regulasi pembiayaan, kekuasaan DPRD dalam mempolitisasi APBD, kebijakan bupati dalam mengubah dinas pariwisata dan kebudayaan, dan kewenangan Kepala Desa Bawomataluo dalam menerapkan Peraturan Desa Nomor 3 Tahun 2015.

Kontra-Hegemoni dilakukan oleh warga karena mereka melihat bahwa pemerintah kurang serius dalam pengembangan kawasan wisata Bawomataluo. Praktik kontra-hegemoni ini terlihat dari sikap masyarakat kurang mendukung kebijakan pemerintah yang terus mewacanakan pengembangan kawasan Bawomataluo menjadi destinasi wisata nasional.

Undangan dalam acara promosi doktor.

Implikasi Praktik Hegemoni dan Kontra-Hegemoni

Praktik hegemoni yang dilakukan oleh pemerintah berimplikasi dalam pengembangan pariwisata nasional dan pendapatan asli daerah. Pengembangan pariwisata nasional tidak terwujud karena sarana dan prasarana belum memadai di daerah ini, sehingga kunjungan wisatawan dan PAD menurun setiap tahunnya.

Sementara praktik kontra-hegemoni yang dilakukan oleh masyarakat Bawomataluo berimplikasi terhadap eksistensi tokoh adat dan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

“Eksistensi tokoh adat kurang diperhatikan oleh pemerintah selama ini. Seharusnya masyarakat juga dilibatkan secara maksimal dalam pengelolaan dan pemanfaatan hasil dari keunikan daya tarik wisata Bawomataluo tersebut,” jelas Dosen LB STIKOM Bali ini.

Buku ringkasan disertasi.

Saran untuk Pengembangan Kawasan

Waruwu juga memberikan masukan kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan dan bertanggung jawab dalam pengembangan kawasan wisata Bawomataluo, yaitu: pertama, pemerintah diharapkan tidak melakukan praktik hegemoni dalam menjalankan kebijakan dan program kerjanya.

Kedua, praktik kontra-hegemoni yang dilakukan oleh masyarakat bukan solusi untuk menyelesaikan kendala dalam pengembangan kawasan wisata Bawomataluo.

Ketiga, pengusaha diharapkan menanamkan investasinya di Bawomataluo agar sarana dan prasarana tersedia di kawasan ini.

Keempat, akademisi diharapkan untuk terus menggali potensi daya tarik wisata di Bawomataluo serta memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat berkaitan dengan manajemen pengelolaan, pemasaran, dan promosi pariwisata.

Dekan FIB sekaligus Pimpinan Sidang ujian promosi doktor, Prof. Sutjiati Beratha memberikan ucapan selamat kepada doktor baru dan keluarganya.

Makna Disertasi

Promotor Prof. I Nyoman Darma Putra setelah menyerahkan sertifikat kelulusan kepada doktor baru Dermawan Waruwu menyampaikan sambutan singkat mengenai makna disertasi.

Menurut Prof. Darma, penelitian Dermawan merupakan studi kritis atas situasi ‘kritis’ di lapangan karena kawasan wisata Bawomataluo ini memiliki potensi rumah adat dan atraksi wisata yang menarik tetapi tampak tidak dikelola dengan baik.

“Dari banyaknya pertanyaan para penguji dan undangan yang hadir mengenai kekurangkompakan pengampu kepentingan dalam pengelolaanya menunjukkan disertasi ini berhasil memancing rasa ingin tahu yang lebih dalam dari topik yang dibahas,” ujar Prof. Darma, dosen FIB Unud yang dalam tiga tahun terakhir menjadi Kaprodi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana.

Dia menyebutkan, stakeholders destinasi wisata Bawomataluo mestinya bercermin dari daerah-daerah lain di Indonesia seperti Desa Penglipuran di Bali yang mampu menjadi destinasi populer berkat kekhasan rumah tinggal.

“Potensi besar kalau tidak dikelola dengan baik tidak bermanfaat. Objek wisata kecil seperti Penglipuran saja bisa maju, mestinya yang besar juga bisa dan bahkan mestinya lebih maju dan menguntungkan,” ujar Prof. Darma.

Kaitannya dengan praktik hegemoni dan kontra-hegemoni yang terjadi antara pemerintah dan masyarakat di Bawomataluo menunjukkan bahwa sebetulnya tidak ada ‘hegemoni yang bulat’.

“Hegemoni atau dominasi tidak ada yang statis, semuanya dinamis dan ditandai dengan resistensi,” ujar Prof. Darma hendak menunjukkan bahwa disertasi Dermawan berhasil memberikan contoh tentang hegemoni yang tidak bulat.

Dalam usaha mengembangkan destinasi pariwisata, menurut Darma, diperlukan juga peran pemerintah pusat yang memiliki kemampuan finansial dan jaminan regulasi yang dapat meyakinkan investor.

“Perlu diperjuangkan agar kawasan Bawomataluo bisa dikembangkan sebagai bagian dari proyek pariwisata pemerintah pusat seperti pembangunan 10 Bali Baru,” ujarnya.

Hadirin

Hadir dalam kesempatan itu antara lain Rektor Universitas Dhyana Pura Dr. dr. Made Nyandra, Sp.KJ.,M.Repro dan WR I Dr. IGB Rai Utama, dosen dan mahasiswa Kajian Budaya Unud, serta keluarga. Beberpa ada yang tampil dengan pakaian daerah Nias, termasuk promovendus Dermawan Waruwu, yang ingin menunjukkan jati diri daerah dan memenuhi kaul (Ida Ayu Laksmita Sari).