FIB Unud Menggelar Lokakarya Klinik Penulisan Artikel untuk Jurnal Internasional

Dekan FIB Unud Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha,M.A. (kiri) saat membuka lokakarya klinik jurnal, Kamis, 12 Oktober 2017. Tampak dalam foto dari kanan adalah Ketua Panitia Dr. Industri Ginting Suka, narasumber Dr. I Gst. Ngurah Agung Suryaputra, S.T., M.Sc. dan Drs. I Nyoman Udayana, M.Litt., Ph.D (Foto-foto Ida Ayu Laksmita Sari).

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana menyelenggarakan Lokakarya Klinik Jurnal bertema “Meningkatkan Karya Ilmiah Dosen menuju Jurnal Terakreditasi Nasional dan Terindex International Bereputasi”, Kamis, 12 Oktober 2017 di ruang Ir. Soekarno kampus setempat.

Lokakarya menghadirkan dua narasumber yaitu Dr. I Gst. Ngurah Agung Suryaputra, S.T., M.Sc. (Undiksha Singaraja) dan Drs. I Nyoman Udayana, M.Litt., Ph.D. (Universitas Udayana). Lokakarya ini dihadiri sekitar 50 orang termasuk Dekan, WD I, II, dan III, guru besar, dosen, dan pengelola jurnal di lingkungan FIB.  

Perkembangan yang Semakin Baik

Ketua panitia lokakarya Dr. Industri Ginting Suka, M.S. dalam laporannya menyampaikan bahwa poin penting dalam menjalankan fungsi Tridharma Perguruan Tinggi oleh dosen adalah melaksanakan penelitian dan mempublikasikan hasilnya sesegera mungkin.

Menurut Dr. Ginting, kinerja dosen yang selanjutnya menjadi kinerja jurusan/prodi, fakultas dan perguruan tinggi sangat dipengaruhi oleh seberapa luas dan berkualitasnya publikasi para dosen tetapnya.

Wakil Dekan III Prof. Weda Kusuma (jaket hitam) usai menyerahkan apresiasi kepada narasumber.

“Tuntutan publikasi yang dilakukan komunitas akademik perguruan tinggi memberikan dampak yang cukup besar terhadap kesadaran dosen terhadapnya pentingnya melakukan kajian, penelitian serta menulis karya ilmiah,” ujar dosen Antropologi FIB Unud ini.

Dr. Ginting menilai perkembangan karya ilmiah di Unud, khususnya FIB relatif makin baik, terutama sejak diberlakukan regulasi pemerintah yang mewajibkan mahasiswa S1, S2, hingga S3 untuk menulis artikel di jurnal ilmiah sebagai salah satu prasyarat kelulusan.

“Dosen tentunya semakin besar tuntutannya untuk aktif menulis di jurnal ilmiah baik di tingkat nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi,” ujar penulis buku Teori Etika Lingkungan; Antroposentris, Ekofeminisme, Ekosentrisme (2017).

Permen Ristekdikti

Dekan FIB Unud, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., menjelaskan pemberlakuan Permen Ristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Professor, di mana para dosen yang menduduki jabatan lektor kepala, dan professor yang mendapat tunjangan kehormatan harus memenuhi sejumlah kewajiban yang salah satunya adalah menulis karya ilmiah/artikel di jurnal Internasional atau jurnal internasional bereputasi sudah dilaksanakan.

Peserta lokakarya.

“Pada lokakarya kali ini, kami mohon para guru besar, dosen dan pengelola jurnal Prodi FIB untuk berpartisipasi secara aktif dan mendiskusikan hal-hal yang terkait dengan yang menjadi kewajiban kita agar dapat memenuhi apa yang diamanahkan pada permen tersebut,” saran Prof. Sutji, yang belum lama lalu menerbitkan buku ajar Introduction of English Morphology (2017)

Dekan lulusan The Australian National University (ANU) ini mengharapkan agar para guru besar, dosen, karya siswa program magister dan doktor untuk mengikuti Lokakarya ini dengan tekun agar tujuan lokakarya ini dapat tercapai, dan artikel yang dibuat layak dan siap dipublikasikan di Jurnal Internasional.

Struktur IMRad

Nara sumber pertama Dr. Agung Suryaputra menjelaskan struktur artikel yang baik adalah yang memenuhi unsur-unsur dasar seperti Title, Authors add affiliation, abstract, key words, main text, conculiton, acknowledgements, dan references. Ia menekankan pada main teks lebih baik dengan asas IMRaD yaitu Introduction, Methods (and Materials), Result, and Discussion.

Pada affiliation tulislah nama universitas menggunakan nama asli yaitu Bahasa Indonesia, misalnya Universitas Udayana tulislah dengan “Universitas Udayana” bukan ‘Udayana University’ agar jumlah publikasi terakumulasi dalam nama lembaga yang orisinal.

Menyinggung tentang penulisan metode, Agung Suryaputra menjelaskan agar penulis cara kerja yang ditempuh, bukan menulis definisi dari metode yang digunakan.

Peserta lokakarya

Dia menekan bahwa dalam bagian ’Discussion’ (pembahasan) agar disajikan secara detil dan diberikan analisis kritis dan hasilnya agar ditegaskan sebagai temuan dari riset.

Tata Kelola Referensi

Dr. Agung memperkenalkan cara mudah mengorganisasikan daftar pustaka atau referensi yang sudah dikumpulkan yaitu dengan menggunakan perangkat lunak Reference Manager Software, salah satunya Mendeley  yang bisa diunduh dengan gratis. “Dengan sistem ini, penulis akan gampang melakukan kutipan dan rujukan,” ujarnya.

Mengenai judul artikel, Agung Suryaputra menyampaikan bahwa menulis judul artikel jurnal tidak sama dengan judul penelitian. “Tulislah judul umum, mencerminkan isi tulisan, dan menarik pembaca,” ujarnya.

Peserta saat tanya jawab.

Alasan Penolakan

Agung Suryaputra menjelaskan beberapa alasan artikel peneliti ditolak oleh editor jurnal. Alasan tersebut di antaranya kendala bahasa, di mana Bahasa Inggris yang kurang baik, tidak adanya kebaharuan dalam penelitian, designnya lemah, atau  fokus jurnal tidak sesuai dengan artikel yg dikirim.

Penulis sebaiknya mengecek jurnal yang akan dituju di SJR, carilah H indeks yg kecil tetapi masih masuk Q3, kemudian langkah selanjutnya mengecek Scopus kembali agar jangan sampai jurnal tersebut sudah tidak terdaftar diindeks Scopus lagi.

Peserta aktif dalam tanya jawab.

Hal yang Diperhatikan sebelum Menulis

Pembicara kedua, Drs. I Nyoman Udayana, M.Litt., Ph.D., menyampaikan hal-hal yang harus diperhatikan sebelum menulis artikel di jurnal internasional, di antaranya memperhatikan house style dari jurnal yang dituju, menyeleksi artikel-artikel jurnal yang berkait dengan penelitian yang dilakukan.

Selain itu, menurut Udayana, penulis perlu memastikan bahwa penelitian menyampaikan tujuan penelitian yang berbobot, inovatif, dan orisinal (Ida Ayu Laksmita Sari).