Prodi Doktor Linguistik FIB Unud Gelar Kuliah Umum tentang Linguistik Antropologi

Prof. Sibarani menyampaikan kuliah umum Linguistik Antropologi di Prodi S-3 Ilmu Linguistik FIB Unud, Senin, 9 Oktober 2017.

Kajian bahasa dengan memperhatikan aspek kebudayaan sudah berlangsung sejak lama akan tetapi baru belakangan ini saja model riset itu diberikan label sebagai linguistik antropologi.

Demikian disampaikan guru besar linguistik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S., dalam kuliah umum di Prodi S-3 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud, Senin, 9 Oktober 2017. Kuliah diikuti sekitar 30 peserta terdiri dari dosen dan mahasiswa S-2 dan S-3 Ilmu Linguistik FIB Unud.

Kuliah umum dibuka oleh Kaprodi S-3 Ilmu Linguistik FIB Unud Prof. Dr. I Nengah Sudipa.

“Saya yakin mahasiswa dan staf dapat belajar banyak dari pencerahan tentang linguistik antropologi,” ujar Prof. Sudipa.

Prof. Sudipa menyerahkan apresiasi kepada Prof. Sibarani (kiri).

Cikal Bakal

Dalam kuliah yang berlangsung hampir dua jam itu, Prof. Sibarani menyampaikan cikal-bakal munculnya linguistik antropologi, berbagai nama yang digunakan untuk penyebutannya, wilayah kajian, serta aplikasinya dalam penulisan riset atau penelitian disertasi.

“Sebetulnya kajian bahasa dengan memperhatikan dimensi budaya sudah ada sejak dulu, tahun 1970-an, namun istilah linguistik antropologi baru populer tahun 1990-an,” ujar alumnus Doktor Unpad Bandung dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU) itu.

Dia menyebutkan beberapa buku awal mengenai antropologi linguistik antara lain dari Alessandro Duranti, Marcel Danesi, dan William A. Folley.

Usai kuliah umum, peserta berfoto bersama dengan Prof. Sibarani dan Prof. Sudipa.

Berbagai Nama

Mengenai nama, Prof. Sibarani mengatakan bahwa ada beberapa istilah yang digunakan para ahli seperti antrhopological linguistics, Linguistic Antropology, Ethnolinguistics, cultural linguistics, dan anthropolinguistics.

Prof. Sibarani sendiri lebih cenderung menggunakan istilah yang mengedepankan istilah linguistik di awal daripada antropologi, yaitu linguistik antropologi, karena kajiannya jelas-jelas adalah bahasa.

Prof. Sibarani menyampaikan bahwa perkembangan linguistik antropologi merupakan bagian dari tiga arus utama perkembangan kajian ilmu bahasa yaitu theoritical linguistics (penelitian bahasa untuk ilmu bahasa) biasa disebut dengan linguistik murni, applied linguistics (linguistik terapan), dan interdisiplinary linguistics.

“Linguistik antropologi masuk dalam arus ketiga, interdisiplinary linguistics,” cetus dosen yang pernah posdoct di Hamburg, Jerman, dan program riset di Leiden, Belanda.

Dalam interdisiplinary linguistics terdapat area kajian inovatif lainnya seperti psikolinguistik, tourism linguistics, cullinary linguistics, dan forensic linguistics.

Prof. Sibarani dan Prof. Sudipa berfoto bersama dosen dan mahasiswa yang mengikuti kuliah umum.

Dua Fokus

Menurut Prof. Sibarani, fokus kajian linguistik antropologi ada dua yaitu bahasa sebagai praktik budaya dan bahasa sebagai sumber budaya. Dia menyebutkan beberapa contoh kajian bahasa seperti bagaimana memahami ungkapan dalam patun ‘kalau ada sumur di ladang’, mengapa bukan ‘kalau ada sumur di sawah’.

“Pemaknaan lebih dalam dapat dilakukan dengan linguistik kebudayaan,” ujarnya.

Dalam presentasinya, Pof. Sibarani menampilkan bagan yang ilustratif.

Dalam akhir ceramah dan tanya jawab, Prof. Sibarani memberikan contoh praktis bagaimana melaksanakan kajian linguistik antropologi, termasuk dalam menyusun ‘rumusan masalah’ penelitian untuk riset bahasa atau disertasi.

Di akhir kuliah umum, Kaprodi S-3 Linguistik Prof. Sudipa menyerahkan apresiasi kepada Prof. Sibarani.  “Kuliah beliau sangat komprehensif, mudah dipahami, dan menyegarkan,” ujar Prof. Sudipa (Ida Ayu Laksmita Sari/ Darma Putra).