Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Austronesia dan Nonaustronesia Ke-8 di FIB Unud Bahas 129 Makalah

Pembukaan Seminar Bahasa Austronesia ditandai dengan peluncuran buku kumpulan karangan persembahan buat Prof. Dr. Aron Meko Mbete, Jumat, 15 September 2017. Dari kiri ke kanan: Prof. IGM Sutjaya, Prof. Kutha Ratna, Prof. Aron, Rektor Unud Prof. AA Raka Sudewi, Rektor Univ. Negeri Semarang Prof. Dr. Fatur Rokhman, dan Dekan FIB Prof. Sutjiati Beratha (Foto-foto Nissa)

Prodi S2 dan S3 Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana bekerja sama dengan Asosiasi Peneliti Bahasa Lokal (APBL) menggelar Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Austronesia dan Nonaustronesia ke-8, pada hari jumat dan Sabtu, 15 dan 16 September 2017, bertempat di Aula Widya Sabha Mandala, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Seminar yang mengangkat tema “Diaspora bahasa-bahasa Austronesia dan nonaustronesia di Indonesia” itu dibuka oleh Rektor Unud, Prof. A. A. Raka Sudewi.

Pemakalah yang hadir berasal dari lima negara, yaitu Jerman, Australia, Korea, Cina, dan Indonesia. Seminar diikuti oleh 150 pemakalah dengan jumlah makalah sebanyak 129 judul.

Aula FIB Unud tempat Seminar Internasional Austronesia.

Seminar Istimewa

Ketua Panitia, Ketut Widya Purnawati, S.S., M.Hum., dalam laporannya menyatakan bahwa seminar kali ini merupakan seminar yang istimewa.

“Penyelenggaraan seminar ini istimewa karena dirangkaikan dengan acara purnabakti guru kami, Prof. Dr. Aron Meko Mbete serta peringatan Dies Natalis Universitas Udayana Ke-55, Hari Ulang Tahun Fakultas Ilmu Budaya Ke-59, dan Badan Kekeluargaan Fakultas Ilmu Budaya Ke-36.”

Seminar Internasional dan Misi Unud

Dalam sambutannya, Rektor Unud Prof. A. A. Raka Sudewi menyambut baik seminar internasional ini karena sesuai dengan misi Universitas Udayana untuk menjadi Universitas berkelas dunia.

“Kegiatan-kegiatan akademis seperti  ini tentunya amat penting dan perlu terus dikembangkan di berbagai bidang kajian, termasuk dalam ilmu linguistik dan sastra,” ujar Rektor Raka Sudewi. Menurutnya, bangsa Indonesia memiliki kekayaan khasanah budaya bangsa yang luar biasa, dibangun atas keragaman suku, bahasa, agama, kepercayaan dan adat istiadat.

Rektor Unud Prof. AA Raka Sudewi (kiri) dan Dekan FIB Prof. Sutjiati Beratha (kanan) memberikan sambutan pada acara pembukaan seminar.

Rektor menambahkan bahwa Indonesia memiliki sedikitnya 719 bahasa daerah, diusung oleh sekitar 250 juta lebih bangsa Indonesia yang menghuni 17 ribu lebih kepulauan Nusantara, yang membentang dari Sabang sampai Merauke.

“Sebagian di antara bahasa daerah tersebut telah terancam punah,” ujar Rektor Unud yang baru itu.

Undangan dan peserta seminar.

Tantangan Besar

Banyaknya Bahasa daerah yang terancam punah tersebut menjadi sebuah tantangan besar yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini. Di sinilah Universitas Udayana sebagai lembaga perguruan tinggi harus hadir, menunjukkan perannya dalam memberikan kontribusi pemikiran dalam memecahkan permasalahan kehidupan bangsa dan negara, sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Tantangan besar tersebut tidak dapat kita hadapi sendiri. Kita harus membuka diri, berpikiran terbuka, berinovasi, serta bekerja sama dan bersinergi dengan berbagai pihak dari berbagai belahan dunia untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran dan kajian ilmiah dalam mengatasi berbagai tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Rektor Unud.

“Universitas Udayana selalu berkomitmen mengembangkan jaringan kerja sama global pada berbagai sektor. Oleh sebab itu, saya selaku Rektor Universitas Udayana menyambut baik pelaksanaan seminar ini dengan harapan pembahasan-pembahasan yang dilaksanakan dapat menghasilkan suatu pemahaman baru dalam bidang kajian linguistik dan sastra,” tegasnya.

Presentasi makalah.

Ciri Umum Penutur Austronesia

Dekan FIB Universitas Udayana, Prof. Dr. Luh Sutjiati Beratha, M.A. dalam sambutannya menyatakan tema seminar kali ini menjadi sangat penting karena kita dapat memahami hubungan bahasa-bahasa baik yang berkerabat dan yang tidak berkerabat, dan tergolong baik ke dalam rumpun bahasa Austronesia maupun Non-Austronesia.

“Kesamaan bahasa merupakan ciri penting yang diwarisi oleh penutur Austronesia yang tersebar dari Madagaskar (barat) hingga Pulau Paskah (timur), Formosa/Taiwan (utara) dan Selandia Baru (selatan). Para ahli telah dapat mengidentifikasi ciri-ciri umum penutur Austronesia, meskipun telah terjadi interaksi dan perubahan secara budaya dan biologi berabad-abad lamanya,” ujar Dekan yang juga ahli bahasa ini.

“Ciri-ciri umum yang dimiliki oleh penutur Austronesia, antara lain (1) sebagian besar penutur Austronesia di luar Melanesia dan Filipina memiliki ciri biologi yang dapat digolongkan sebagai ras Mongoloid Selatan (Southern Mongoloid); (2) secara budaya, penutur Austronesia di masa lampau memiliki tradisi mentatto tubuh; (3) menggunakan layar pada sampan/perahu; (4) secara etnografi maupun di masa prasejarah mempunyai  gaya seni, dan ciri sosial yang terkait dengan  urutan kelahiran (birth order) untuk saudara kandung; serta (5) pemujaan terhadap leluhur/nenek moyang yang dianggap cikal-bakal/pendiri keturunan ini perlu didiskusikan dalam seminar internasional ini karena Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana mengembangkan ilmu-ilmu bahasa, sastra, dan budaya.

Dekan menutup sambutannya dengan harapan semoga Seminar ini dapat memberikan pencerahan dan diharapkan bermuara pada penyatuan Visi Fakultas Ilmu Budaya, Unud yaitu memiliki keunggulan dan kemandirian dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan aplikasi keilmuan yang berlandaskan kebudayaan.

Ketua APBL Prof. Budiarsa saat memberikan sambutan.

Tingkatkan Penelitian Bahasa Lokal

Ketua APBL (Asosiasi Peneliti Bahasa-bahasa Lokal) Prof. Dr. I Made Budiarsa, M.A., menyampaikan bahwa seminar internasional ini besar artinya bagi peneliti-peneliti bahasa lokal untuk berbagai temuan dan pengalaman dalam meneliti bahasa lokal.

Prof. Budiarsa berharap agar lemahnya meneliti dan menulis hasil penelitian mengenai bahasa lokal dapat meningkat terus melalui forum seminar seperti ini. Penelitian tentang bahasa tidak hanya akan mengangkat bahasa tersebut tetapi juga tradisi, nilai-nilai, dan budayanya.

“Mudah-mudahan kian banyak penelitian dan publikasi mengenai bahasa lokal dalam media nasional dan internasional, karena ini tidak saja berarti penyebarna pengetahuan tetapi juga pelestarian bahasa dan budaya yang dikaji,” cetus Prof. Budiarsa, dosen FIB Unud sekaligus Asdir I Bidang Akademik Pascasarjana Unud.

Diskusi melingkar.

Pemakalah  Seminar

Pemakalah kunci pada seminar Austronesia kali ini adalah Dr. Sonja Riesberg (University of Cologne German dan Australian Research Council, Centre of Excellence Dynamics in Language, Australia).

Empat pemakalah utama, yaitu Dr. Cho, Tae-Young (Korean Institute of Southeast Asian Studies, Korea), Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. (Universitas Andalas Padang), Prof. Dr. Fransiskus Bustan, M.Hum. (Universitas Nusa Cendana), Prof. Dr. Aron Meko Mbete (Universitas Udayana).

Suasana seminar.

Dirangkai Peluncuran Buku

Buku yang diluncurkan pada acara pembukaan ini berjudul “Rona Bahasa”, sebuah buku persembahan bagi Prof. Aron Meko Mbete yang telah memasuki purnatugas di tahun 2017.

“Kata “rona” merupakan kata yang cukup unik karena apabila dibaca berulang “Rona –Rona-Rona-Rona” maka akan terbaca “Aron”, ujar Kaprodi S3 Linguistik, Prof. Dr. I Nengah Sudipa.

Buku “Rona Bahasa” Persembahan untuk Prof. Aron.

Kata “rona” mempunyai makna yang mendalam, tidak saja sebagai sebuah “warna” yang terlihat memberikan keindahan pada sesuatu , kata “rona” juga bermakna ‘warna yang berbeda’, yang merekam jejak Prof. Aron baik semasa memimpin Prodi Doktor Linguistik Unud dengan upayanya mengembangkan jaringan kerja sama di seluruh Nusantara, maupun upayanya mengenalkan bidang ekolinguistik sebagai sebuah keseimbangan antara bidang kebahasaan dan lingkungan.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan berjumlah lebih dari seratus karya bidang linguistik, sastra, dan budaya dari para kolega, teman sejawat dan mahasiswa yang dipersembahkan bagi Prof. Aron untuk jasa dan pengabdiannya yang tak henti memberi inspirasi dan motivasi

Kolega dan mantan mahasiswa Prof. Aron memberikan buku kumpulan karangan Rona Bahasa (2017) yang disunting I Nengah Sudipa dan Ni Made Sri Satyawati yang dibantu oleh tim mahasiswa.

Jasa Dua Sosok

Persembahan buku dalam Seminar Austronesia seperti ini pernah juga terlaksana satu setengah dekade lalu, tepatnya tahun 2004, ketika kolega dan para mahasiswanya mempersembahkan buku Wibawa Bahasa (2004) kepada Prof. I Wayan Bawa, suntingan I Nyoman Darma Putra dan I Wayan Pastika.

Prof. I Wayan Bawa (1939-2005) dan Prof. Aron adalah sosok yang mendirikan pascasarjana S-2 Linguistik, sebagai program pascasarjana pertama di Unud, kemudian dilanjutkan dengan pendirian Prodi Doktor Linguistik.

Prodi inilah yang menggelar seminar Austronesia dan seminar bahasa dan sastra lainnya secara berkelanjutan sampai sekarang (Ida Ayu Laksmita Sari).