Doktor Baru Kajian Budaya Pertahankan Disertasi “Marginalisasi Tari Kontemporer dalam Pesta Kesenian Bali”

Promotor Prof. AAB Wirawan menyerahkan sertifikat kelulusan kepada doktor baru I Nyoman Cerita (Foto-foto Dedi)

Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana menyelenggarakan Promosi Doktor atas nama I Nyoman Cerita, SST.,M.FA., Rabu, 13 September 2017. Nyoman Cerita berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Marginalisasi Tari Kontemporer dalam Pesta Kesenian Bali.”

I Nyoman Cerita yang merupakan mahasiswa angkatan 2013-2014 ini lulus dengan predikat sangat baik. Cerita adalah Doktor ke-19 di lingkungan FIB Unud dan Doktor ke-199 di lingkungan Prodi S3 Kajian Budaya FIB Unud.

 Tim Penguji

Selaku ketua penguji pada Promosi Doktor kali ini adalah Dekan FIB Universitas Udayana, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. Anggota Penguji terdiri dari Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, S.U. (Promotor), Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. (Kopromotor I), Dr. Ni Made Ruastini, SST., M.Si. (Kopromotor II), Prof. Dr. A.A.N. Anom Kumbara, M.A., Dr. Ni Made Wiasti, M.Hum., Dr. I Putu Sukardja, M.Si., Dr. I Nyoman Dhana, M.A., dan Dr. Industri Ginting Suka, M.S.

Marginalisasi Tari Kontemporer

I Nyoman Cerita menyatakan tari Kontempoter yang merupakan ciptaan baru dengan pola penggarapannya yang berorientasi kepada budaya global dan kekinian telah mengalami marginalisasi, khususnya dalam program Pesta Kesenian Bali empat tahun terakhir.

Fokus disertasi dari Nyoman Cerita adalah penyebab tari kontemporer mengalami marginalisasi dalam PKB empat tahun terakhir, bentuk marginalisasi, serta makna dan implikasi marginalisasi tari kontemporer tersebut.

Ketua Penguji sekaligus Dekan FIB Unud Prof. Luh Sutjiati Beratha (tengah) berfoto dengan doktor baru Dr. I Nyoman Cerita (sebelah kanan) dan para dosen penguji.

Belum Diterima Masyarakat Bali

Dosen ISI Denpasar ini mengungkapkan bahwa dari hasil penelitiannya diketahui tari kontemporer yang lahir pada zaman masyarakat kontemporer yang ditandai oleh derasnya pengaruh globalisasi ternyata kehadirannya belum diterima oleh masyarakat Bali.

“Perkembangan tari kontemporer di tengah-tengah dominasi tari tradisional penuh dengan rintangan serta berbagai wacana dekonstruktif sehingga menjadi stigma di dalam kehidupan sosikultural masyarakat Bali,” ujar Nyoman Cerita.

Temuan

I Nyoman Cerita mengungkapkan terdapat dua temuan dalam penelitiannya. Pertama, marginalisasi tari kontemporer merupakan proses pemaknaan terhadap nilai-nilai tekstual, kontekstual dan kultural dalam kehidupan sosial masyarakat Bali yang masih kuat dan kokoh dengan nilai-nilai tradisional.

“Dalam proses ini terdapat berbagai asumsi, interpretasi, persepsi, apriori, dan skeptis dari masyarakat dominan terhadap keberadaaan tari kontemporer sehingga menjadi stigma atau dikonotasikan negatif,” jelas salah seorang tim Pembina di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gianyan Ini.

Temuan lainnya adalah secara ideologis PKB merupakan pandangan hidup yang dianggap memiliki kebenaran mutlak bagi masyarakat Bali dalam penegasan fungsi dan makna pelestarian dan pengembangan nilai-nilai seni budaya sebagai landasan dalam kehidupan sosiokultural masyarakat Bali yang beradab, bermartabat dan terhormat.

Para undangan saat ujian terbuka/promosi doktor.

Menurut Cerita, tari kontemporer yang diciptakan melaui proses kreatif secara koreografis mengandung unsur-unsur artistik dan filosofis yang menyangkut kemanusiaan, ingin merebut ruang makna sebagai bagian dari kebudayaan. Berjuang merebut emansipasi dan kesetaraan atau kesamaan kedudukan sebagai bagian dari seni pertunjukkan Bali dalam multikulturalisme.

“Perjuangan tersebut terus berlanjut secara horisontal dan vertikal,” ungkap lulusan di UCLA Los Angles, USA ini.

Makna Disertasi

Promotor I Nyoman Cerita, yaitu Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, S.U. dalam makna disertasi menyatakan bahwa dengan prestasi ini Dr. Cerita bisa kembali ke kampus untuk mengabdikan ilmu yang telah diperoleh. Menjadi guru sekaligus praktisi, praktek dengan teori yang diperoleh agar seimbang dan segala perjuangan mengakhiri proses marginalisasi dari tari kontemporer itu bisa terwujud terutama diruang Pesta Kesenian Bali.

“Harus ada keseimbangan antara produk-produk seni, khususnya seni tari antara yang tradisi dan modern. Dalam Pesta Kesenian Bali justru tari tradisi yang semakin kuat berbanding terbalik dengan tarian kontemporer yang mengalami marginalisasi. Satu hal yang unik, fenomena di Bali ini dalam proses perkembangan kesenian,” ujar Guru Besar FIB Unud ini.

“Sebagai makna yang bisa dipetik bahwa di dalam realitas yang terjadi selama 4 kali Pesta Kesenian Bali telah terjadi perjuangan untuk merebut ruang sehingga terjadi kesejajaran, emansipasi  di bidang pementasan seni di PKB,” jelas Prof. Wirawan (Ida Ayu Laksmita Sari).