Pertahankan Disertasi tentang Kawasan Wisata Kota Tua Jakarta, Derinta Entas Meraih Gelar Doktor Kajian Budaya FIB Unud

Dr. Derinta Entas lulus ujian terbuka doktor Prodi Kajian Budaya sesudah menerima sertifikat kelulusan dari promotor Prof. I Nyoman Darma Putra, Selasa, 30 Agustus 2017.

Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana menyelenggarakan Ujian Terbuka/ Promosi Doktor atas nama Derinta Entas, S.E., M.M., Rabu, 30 Agustus 2017 di Ruang Ir. Soekarno kampus setempat.

Dalam acara tersebut, Derinta Entas mempertahankan disertasinya yang berjudul ”Representasi Pariwisata Posmodern Kawasan Kota Tua Jakarta”. Pada akhir ujian, dosen Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Sahid Jakarta yang kuliah di S-3 Kajian Budaya sejak 2013 itu dinyatakan lulus dengan predikat ’Istimewa’.

Tim Penguji

Sebagai ketua penguji adalah Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., anggota penguji adalah Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. (Promotor), Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A. (Kopromotor I), Dr. I Gede Mudana, M.Si. (Kopromotor II), Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U., Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S., Dr. Ida Bagus Gede Pujaastawa, M.A. dan Dr. Ketut Setiawan, M.Hum.

Hadir pula dalam jajaran undangan  adalah dosen FIB Unud, mahasiswa, dan undangan dari Ketua Umum Yayasan Sahid Jaya, Dr. Nugroho B. Sukamdani, dan beberapa undangan lainnya.

Ketua Umum Yayasan Sahid Jaya Dr. Nugroho Sukamdani hadir dalam ujian terbuka bersama beberapa staf.

Pariwisata Posmodern

Dalam disertasi, Derinta Entas mengkaji representasi pariwisata posmodern kawasan Kota Tua Jakarta yang merupakan proses keberlangsungan pembangunan dengan mengembalikan fungsi lama kawasan dalam bentuk pemaknaan baru.

Latar belakang perkembangan kawasan Kota Tua Jakarta berawal dari kota tradisional menjadi kota pelabuhan kemudian menjadi kota kolonial Belanda.

Tim penguji dipimpin Prof. I Wayan Ardika (dua dari kiri) saat ujian.

“Modal budaya yang dimiliki kawasan Kota Tua Jakarta, seperti sejarah masa lalu kawasan, bangunan-bangunan tua yang sarat akan nilai sejarah dengan arsitektur unik  perpaduan gaya art deco dan art  nouveau menjadi daya tarik utama kawasan,” ujarnya Derinta menyebutkan potensi wisata Kota Tua

Pariwisata posmodern, menurut Derinta mengutip pendapat para ahli, adalah pariwisata yang menawarkan daya tarik unpopuler, berbasis warisan budaya, otentisitas, dan menawarkan peluang bagi wisatawan untuk mengenang masa lalu.

“Selain warisan budaya, memori atau kenangan adalah juga aspek penting pariwisata posmodern,” ujar Derinta.

Berhasil Menambah Daya Tarik

Menurut Derinta, usaha pemerintah, pengusaha, dan masyarakat mengelola Kota Tua Jakarta sebagai pariwisata posmodern, berhasil menambah daya tarik wisata kota ini selain Monas, ikon utama ibukota yang pelan-pelan meredup ditelan waktu. Lingkungan fisik kawasan Kota Tua Jakarta terkondisikan cukup baik semenjak kawasan Kota Tua direvitalisasi oleh konsorsium swasta.

“Kota Tua Jakarta pelan-pelan kian populer. Berkunjung ke Kawasan Kota Tua gratis, kecuali masuk museum,” ujar Derinta.

Di Kota Tua Jakarta terdapat sejumlah gedung peninggalan Belanda yang diberikan fungsi baru seperti menjadi museum, galeri, café, atau restoran. Di sana juga atraksi seni seperti manusia patung dan ruang untuk nostalgia seperti naik sepeda ontel yang ditawarkan oleh komunitas.

Gedung tua dan atraksi manusia patung di Kota Tua jakarta (Foto Internet)

Keberhasil penataan Kota Tua menjadi kawasan wisata juga diakui oleh Dr. Nugroho Sukamdani dalam komentarnya.

“Dulu kawasan Kota Tua Jakarta kotor, tak tertata, setelah saya datang ke dua kalinya belum lama lalu, kondisinya lain, tertata dan bersih,” ujar Ketua Umum Yayasan Sahid Jaya itu.

Temuan Penelitian

Empat temuan yang dipaparkan Derinta dari disertasinya adalah sebagai berikut. Pertama, pariwisata posmodern kawasan Kota Tua Jakarta adalah arena pertarungan kompleks termasuk (1) pertarungan bisnis, (2) pertarungan politik tata ruang, dan (3) pertarungan sosial budaya.

Kedua, pariwisata posmodern kawasan Kota Tua Jakarta menciptakan wisatawan posmodern, wisatawan yang memiliki kecenderungan memilih destinasi yang tidak lazim (unpopular), tertarik budaya lokal, mencari nostalgia.

Ketiga, pengembangan kawasan Kota Tua Jakarta relevan dengan wacana global mengenai pariwisata berkelanjutan. Pada konteks ini yang menjadi fokus adalah aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya.

Aspek lingkungan kawasan Kota Tua Jakarta ditekankan pada kelestarian lingkungan kawasan seperti penghijauan dan kebersihan kawasan. Kawasan Kota Tua Jakarta identik dengan macet, kotor, sampah di mana-mana tidak teratasi. Di sisi berbeda  ada upaya untuk membersikan lingkungan. Pembersihan Kali Besar dari sampah dan endapan lumpur, pembangunan pedestrian dan taman-taman di sepanjang Kali Besar menjadi contoh upaya yang dilakukan oleh pihak UPK Kota Tua.

Dr. Derinta Entas (tengah) berfoto bersama penguji.

Keempat, pengembangan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai pariwisata posmodern berbasis wisata sejarah dan budaya mampu menawarkan karakteristik budaya lokal nusantara khususnya budaya Betawi baik dari aspek kesenian, kuliner, dan fashion.

Makna Disertasi

Promotor Prof. I Nyoman Darma Putra menyampaikan bahwa disertasi Derinta merupakan kajian baru dalam bidang pariwisata dan kajian budaya karena selama ini belum ada yang meneliti representasi kawasan pariwisata dengan pendekatan posmodern.

“Disertasi ini dengan demikian memperkaya studi kajian budaya dan pariwisata Indonesia yang ada,” ujar dosen FIB Unud yang juga sebagai Koordinator Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud.

Meski demikian, Darma menyampaikan bahwa dalam kajian, pendekatan posmodern memberikan sudut pandang baru, tetapi sebagai praktik berwisata, pariwisata posmodern merupakan fenomena lama.

“Turis Inggris dan Amerika yang berpetualang ke Afrika adalah bentuk pariwisata posmodern karena warga dari negeri modern itu hadir berpetualang mengunjungi hal yang unpopular,” ujar Darma, penulis buku (bersama Michael Hitchcock) Tourism Development and Terrorism in Bali (2007) (Ida Ayu Laksmita Sari).