La Ode Yusuf Raih Doktor setelah Pertahankan Disertasi tentang Tradisi “Bangka Mbule-Mbule” Masyarakat Mandati Wakatobi Sulawesi Tenggara

Promotor Prof. Dr. I Wayan Cika,M.S. memberikan ucapan selamat kepada doktor baru La Ode Yusuf

⁠⁠⁠⁠Prodi S3 Kajian Budaya Universitas Udayana menyelenggarakan Promosi Doktor atas nama La Ode Yusuf, Selasa 29 Agustus 2017 bertempat di ruang Ir. Soekarno kampus setempat. La Ode yang merupakan angkatan 2013-2014 berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Diskursus Tradisi Bangka Mbule-Mbule pada Masyarakat Mandati di Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara.” Bangka Mbule-Mbule merupakan ritual tolak bala dalam masyarakat Mandati.

Bertindak sebagai Ketua penguji adalah Dekan FIB Unud, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., sedangkan anggota penguji adalah Prof. Dr. I Wayan Cika, M.S. (Promotor), Prof. Dr. I Nengah Duija, M.Si. (Kopromotor I), Dr. I Gusti Ketut Gde Arsana, M.Si. (Kopromotor II), Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A., Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, S.U., Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M. Hum.,  dan Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S.

Ritual Tolak Bala

La Ode dalam pemaparan disertasinya menjelaskan bahwa tradisi bangka mbule-mbule merupakan ritual tolak bala yang mengandung nilai-nilai kesejahteraan, keselamatan, dan ketentraman sosial.

Disertasinya memfokuskan pada diskursus yang mewarnai tradisi bangka mbule-mbule, faktor penyebab munculnya diskursus tradisi bangka mbule-mbule, implikasi, dan maknanya.

Temuan

La Ode Yusuf menyampaikan temuan disertasinya terdiri dari temuan teoritis, metodologis, dan empiris. Secara teoretis eksistensi tradisi bangka mbule-mbule pada masyarakat Mandati menguatkan pendapat Foucault tentang diskursus merupakan sebuah pengetahuan yang menjelaskan praksis sosial dan relasi kekuasaan yang ada di balik pengetahuan beserta praksis sosial tersebut.

“Praksis sosial bangka mbule-mbule tampaknya merupakan sebuah pelestarian budaya oleh pemerintah,” jelas PNS Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara ini.

Doktor baru La Ode Yusuf (tengah) berfoto bersama Dekan FIB Unud Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. bersama promotor dan penguji lainnya.

Dimensi kebaruan dalam aspek metodologis dalam penelitian La Ode Yusuf ditandai dengan penggunaan paradigma semiotika dan hermeneutika dalam menjelaskan fenomena terhadap pesan simbolis yang ditampilkan oleh suatu tradisi.

“Paradigma semiotik menekankan pada pemaknaan terhadap tanda dalam kehidupan suatu tradisi dan paradigma hermeneutika menekankan pada penafsiran atau interpretasi pada teks tradisi,” papar mantan dosen Universitas Muhammadiyah Buton dan STAI YPIQ Buton ini.

Penggunaan metode ini menampilkan totalitas pesan dari suatu tradisi. Perpaduan dua paradigma tersebut, dapat disebut dengan paradigma metodologi semiotik hermeniotika.

Temuan empirik terlihat dari ditemukannya sejumlah pesan simbolik yang khas dari tradisi bangka mbule-mbule baik hadir dalam bentuk teks (ujaran) maupun gerakan atau benda.

“Tradisi bangka mbule-mbule merupakan produk budaya masyarakat Mandati yang lahir sejak adanya peradaban manusia yang mengenal berbagai macam kepercayaan,” ujarnya.

Dalam tradisi bangka mbule-mbule ditemukan pengetahuan dan pemahaman spiritual dalam kebudayaan yang dijadikan media dakwah (sinkretisme) dalam masyarakat Mandati.

“Seiring dengan perkembangan zaman diskursus bangka mbule-mbule menyebabkan terjadinya pergeseran pemaknaan tata nilai dan unsur waktu pelaksanaan,” cetus La Ode Yusuf yang sebelumnya lulus dari Prodi Ilmu Sastra, BKU Filologi Universitas Padjadjaran Bandung ini. La Ode berhasil mempertahankan disertasinya dan dinyatakan lulus dengan predikat sangat baik dan merupakan Doktor ke-16 di FIB dan ke-196 di Prodi S3 Kajian Budaya Unud (Ida Ayu Laksmita Sari).

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠