Prodi Antropologi FIB Unud Rayakan HUT ke-55 dan Selenggarakan Seminar Bertema Kebhinnekaan Memperkokoh Jati Diri Bangsa

Potong tumpeng menandai perayaan HUT ke-55 Prodi Antropologi FIB Unud (Foto Puska Antropologi)

Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud bekerja sama dengan BPNB Bali menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Memaknai Kebhinnekaan dan Merajut Persaudaraan Memperkokoh Jati Diri Bangsa”, Senin 28 Agustus 2017 bertempat di Aula Widya Sabha Mandala Gedung Prof. Dr. Ida Bagus Mantra kampus setempat.

Seminar dibuka oleh Dekan FIB Unud diwakili WD III, Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma,M.S.

Ketua Panitia hari ulang tahun I Gusti Putu Sudiarna dalam laporannya menyatakan bahwa acara seminar kali ini dilaksanakan dalam rangka ulang tahun Prodi Antropologi yang ke-55 dan memperingati 60 tahun kehadiran Ilmu Antropologi di Indonesia, serta pembentukan dan pelantikan Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) cabang Bali.

Dari Kiri: Pembicara Dr. Ulil absar Abdalla, I Putu Putra Kusuma Yudha (BPNB Bali), dan Ida Bagus Gde Pujaastawa (Antropologi Unud) paling kanan.

Seminar ini juga dalam satu rangkaian dengan HUT FIB ke-59 dan BKFIB ke-36.

Pembicara dalam seminar tersebut adalah Dr. Ulil Absar Abdalla, I Putu Putra Kusuma Yudha (BPNB Bali), dan Ida Bagus Gde Pujaastawa (Antropologi Unud).

Peserta seminar sekitar 200 orang terdiri dari mahasisa, dosen, alumni Antropologi, dan undangan lainnya. Seminar berlangsung lancar dan memikat.

Tema yang Tepat

Wakil Dekan III, Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma mewakili Dekan FIB Unud dalam sambutannya menyatakan tema yang diambil oleh prodi antropologi sudah tepat karena pada saat ini masalah Kebhinnekaan menjadi pembicaraan cukup ramai di tingkat nasional dan lokal.

WD III FIB Unud Prof. Weda Kusuma.

 “Di dalam kebhinnekaan ada ketentraman, keadilan dan kemerdekaan yang setara, sehingga secara tidak langsung, secara bersamaan menjadi masyarakat yang kuat bersatu dalam bingkai NKRI,” papar Guru Besar Sastra Indonesia FIB tersebut.

Tantangan Kebhinnekaan

Dalam Seminar Nasional ini Ulil Abshar-Abdalla, berbicara tentang “Menyikapi Tantangan terhadap Kebhinnekaan”. Menurutnya, falsafah Bhinneka Tunggal Ika yang mengandung makna keberagaman dalam persatuan belakangan ini banyak mendapat tantangan. Lebih jauh dikatakan, tantangan terhadap keberagaman tidak hanya melanda Bangsa Indonesia, tetapi juga oleh berbagai bangsa di dunia.

Untuk menyikapi tantangan tersebut, doktor lulusan Harvad University tersebut menawarkan strategi yakni dengan mengidentifikasi “musuh keberagaman”, antara lain (1) fundamentalisme agama yang cenderung menganggap kelompoknya sebagai representasi dari kebenaran; (2) cara pandang terhadap teks (kitab suci) yang bersifat harfiah atau literalistik, sehingga cenderung mengkafirkan hal-hal yang ada di luar teks; (3) Nasionalisme yang bersifat sentralistik disertai dengan penyeragaman kebijakan yang dapat mengancam keberagaman; dan (4) sikap eksklusif atau menutup diri terhadap kelompok lain.

Peserta seminar.

Wacana Ajeg Bali Saat Ini

Ida Bagus Gde Pujaastawa berbicara tentang “Menyimak Wacana Ajeg Bali dari Perspektif Multikulturalisme. Bergulirnya wacana “Ajeg Bali” dapat dipandang sebagai refleksi dari rasa kekhawatiran yang sangat mendalam akan kian terancamnya ketahanan identitas kultural, ekonomi, dan ekologi masyarakat Bali.

“Sebagai daerah tujuan wisata internasional, Bali kian memperkuat akselerasi masuknya berbagai pengaruh global, termasuk pula terorisme seperti dalam tragedi Bom Bali I dan II silam,” ujar IBG Pujaastwa.

“Oleh karenanya kebijakan pembangunan hendaklah memperhatikan hak-hak budaya lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya Bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.”

Undangan dan peserta seminar (Foto Ida Ayu Laksmita Sari).

Negosiasi Budaya

Pembicara lainnya, yaitu I Putu Putra Kusuma Yudha membicarakan mengenai “Identitas Etnis Tionghoa di Bali, Sebuah Negosiasi Budaya Tanpa Melupakan Akar leluhur.” Menurutnya, perubahan identitas budaya etnis Tionghoa di Bali, merupakan sebuah negosisasi budaya yang berlangsung secara terus-menerus, turun-temurun sampai saat ini.

Hasil dari negosiasi budaya yang tentunya dekat dengan budaya Bali, memiliki beberapa implikasi. Adanya rasa solidaritas yang tinggi antar etnis dalam melaksanakan kegiatan yang bersifat sosial keagaaman di bali.

“Perubahan identitas ini menghasilkan budaya yang bersifat hybrid memperlihatkan adanya usaha etnis Tionghoa untuk menjaga harmonisasi hubungan dengan etnis Bali.”

Potong Tumpeng

Acara diisi dengan pemotongan tumpeng HUT Prodi Antropologi. Pemotongan tumpeng didampingi oleh lulusan Prodi Antropologi yang pertama, yaitu Prof. Dr. Emiliana Mariah, M.S. Nasi tumpeng diberikan secara simbolik kepada dosen senior dan pensiunan yang sempat hadir di tengah mahasiswa, dosen, dan alumni (Ida Ayu Laksmita Sari).