Mengkaji Perkembangan Bela Diri Jepang Aikido di Bali, Wayan Nurita Meraih Gelar Doktor Kajian Budaya FIB Unud

Doktor baru Wayan Nurita (tengah melipat tangan) berfoto bersama Dekan FIB Unud Prof Sujtiati Beratha (tengah) dan penguji lainnya usai ujian terbuka doktor, Senin, 28 Agustus 2017 (Foto-foto Ida Ayu Laksmita Sari).

Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Udayana, menyelenggarakan Promosi Doktor atas nama Wayan Nurita, S.S., S.H., M.Si, Senin, 28 Agustus 2017. Nurita mempertahankan disertasinya yang berjudul “Posrealitas dalam Pengembangan Bela Diri Aikido di Bali”.

Wayan Nurita lulus dengan predikat istimewa dan merupakan Doktor ke-15 di FIB Unud dan Doktor ke-195 di lingkungan Prodi S3 Kajian Budaya, Universitas Udayana.

Ketua Penguji ujian terbuka/promosi doktor adalah Dekan FIB Universitas Udayana, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. Anggota Penguji terdiri dari Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. (Promotor), Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, S.U. (Kopromotor I), Dr. I Nyoman Dhana, M.A. (Kopromotor II), Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A., Prof. Dr. Ing. Ir. I Made Merta, Dr. Putu Sukardja, M.Si., dan Dr. I Gede Mudana, M.Si.

Aikido Berterima di Bali

Dalam presentasinya, Nurita menjelaskan bahwa Aikido sebagai bela diri yang berasal dari Jepang bisa masuk dan berterima di Bali tidak bisa dilepaskan dari isu globalisasi, kekuatan, dan kekuasaan Jepang dalam konstelasi dunia, secara politik, ekonomi, dan budaya.

Penelitian Dosen STIBA Saraswati Denpasar ini memiliki tujuan antara lain untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya posrealitas dalam pengembangan bela diri Aikido di Bali, proses terjadinya posrealitas dalam pengembangannya, dan implikasi posrealitas dalam pengembangan bela diri Aikido tersebut dalam pengembangan bela diri Aikido (Aikidoka) Bali.

Promotor Prof. Nyoman Suarka (kiri) memberikan sertifikat kelulusan kepada Dr. Wayan Nurita.

Beberapa Ideologi

Hasil penelitian Nurita menunjukkan bahwa keberterimaan bela diri Aikido di Bali dilatarbelakangi oleh beberapa ideologi, yaitu dualisme kultural, paternalisme, pasar, citra, dan multikulturalisme.

Proses pengembangan bela diri di beberapa tempat pelatihan (dojo) yang ada di Bali, menurut Nurita meliputi tahap pengenalan, pendirian organisasi, pengembangan tempat pelatihan, dan tahap pengembangan mutu.

“Semuanya berorientasi kepada induk bela diri Aikido (Honbu Dojo) yang berada di Tokyo-Jepang,” ujar instruktur bela diri Aikido di Terakoya Dojo Canggu dan Greenlife Dojo Kerobokan Badung ini

“Pengembangan bela diri Aikido di Bali menimbulkan implikasi pada para aikidoka Bali termasuk terbentuknya identitas baru dalam masyarakat Bali,” tambahnya.

Paradigma Baru

Ditemukan paradigma baru bahwa di balik kekuatan budaya Bali yang sedang berlangsung dalam segala lini kehidupannya, terdapat sikap orang Bali yang terbuka terhadap kebudayaan asing, khususnya bela diri Aikido.

Terkait dengan bela diri Aikido yang sedang ditekuni oleh beberapa komunitas di Bali ternyata ada berbagai hal yang mendukung keberterimaannya. Beberapa hal tersebut adalah pandangan (image) terhadap Jepang sebagai negara maju dalam hal kekayaan negara, tingkat kualitas pendidikan tinggi, teknologi yang canggih, mampu mempertahankan budayanya sehingga menjadikannya sebagai teladan bangsa lainnya.

Ada kegayutan niai-nilai budaya antara kebudayaan Bali dan kebudayaan Jepang terkait dengan keberadaan bela diri Aikido yang berterima di beberapa komunitas pelatihan di Bali. Kegayutan nilai budaya antara Bali dan Jepang inilah yang membuat para aikidoka Bali semakin cepat menerima dan menjiwai bela diri Aikido.

Doktor Wayan Nurita dengan orang tua, anak-anak dan istri.

Naruto-nya Bali

Dalam sambutan ringkasnya saat memberi makna disertasi, Promotor Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M,Hum. Menyebutkan bahwa doktor baru Wayan Nurita sebagai Naruto-nya Bali karena berkat ketekunan, keuletan, dan kedisiplinannya.

Nurita berhasil meraih gelar Doktor dengan predikat istimewa. Prof Suarka menyampaikan Selamat dan sukses kepada Nurita dan keluarga.

Prof Suarka menyatakan temuan Nurita yaitu munculnya posrealitas dalam kebudayaan Bali, khususnya pada bela diri Bali. Berdasarkan hasil penelitian Nurita bela diri asli Bali telah mengalami posrealitas, bela diri bali melenyap, digantikan bela diri asing, seperti aikido, wushu, dan lain-lain.

“Melenyapnya bela diri Bali mengindikasikan berkurangnya kekayaan kultural,” ujar Prof. Suarka.

“Hal ini mengajak kita kembali berfikir ulang apa yg seharusnya dilakukan dan bukan sekedar apa yang sebaiknya dilakukan,” jelas Prof. Suarka  (Ida Ayu Laksmita Sari)