Teliti Pemertahanan Agama Hindu di Kuta, Gede Rudia Adiputra Raih Gelar Doktor Kajian Budaya FIB Unud

Dr. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag. (kiri) saat mempertahankan disertasi dan menerima sertifikat kelulusan sebagai doktor Kajian Budaya FIB Unud dari promotornya Prof. I Made Suastika (Foto-foto Dedi).

Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana menyelenggarakan Promosi Doktor atas nama Drs. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag, Kamis, 24 Agustus 2017. Dalam sidang promosi/ujian terbuka yang dipimpin Dekan FIB Unud Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha,M.A. itu, promovendus mempertahankan disertasi berjudul “Pemertahanan Agama Hindu di Desa Adat Kuta sebagai Representasi Kampung Global”.

Bertindak sebagai Ketua penguji adalah Dekan FIB Universitas Udayana Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. Anggota Penguji adalah Prof. Dr. I Made Suastika, S.U. (Promotor), Prof. Dr. I Gde Semadi Astra (Kopromotor I), Prof. Dr. Nengah Bawa Atmaja, M.A (Kopromotor II) dan penguji lainnya Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A, Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Kutha Ratna, S.U., Dr. Wayan Suwena, M.Hum., Dr, Ni Luh Arjani, M.Hum., dan Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum.

Promosi ini juga dihadiri sejumlah tokoh di antaranya Rektor IHDN Denpasar, Kadis Dikpora Badung, Kadis Kebudayaan Badung, Ketua Parisada Provinsi Bali, Ketua Parisada Badung, Ketua Yayasan Tri Hita Karana Bali, Ketua Peradi Denpasar, Camat Kuta, Ketua Yayasan Budi Utama, Bendesa Desa Adat Kuta, dan Bendesa Adat Kerobokan.

Heterogenitas Penduduk

Dalam presentasinya Adipura memaparkan latar belakang penelitiannya bahwa “kepadatan dan keheterogenan pendudukan (pawongan) Desa Adat Kuta diakibatkan oleh tingginya tingkat imigran mencari penghidupan di Kuta.”

“Realitas itu menjadi tantangan tersendiri bagi Desa Adat Kuta untuk tetap mampu eksis berdasarkan konsep tri hita karana dalam agama Hindu,” jelas Dosen IHDN Denpasar ini.

Adiputra menjelaskan tujuan penelitian disertasinya yaitu 1) mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan karma Desa Adat Kuta, Kecamatan Kuta melakukan peertahanan agama Hindu, 2) memahami bentuk pemertahanan agama Hindu yang dikembangkan oleh krama Desa Adat Kuta dengan menggunakan basis kebudayaan yang ada di Kuta, dan 3) mengetahui dampak dan makna pemertahanan agama Hindu bagi pembangunan Desa Adat Kuta.

Prof. Dr. Luh Sutjiati Beratha,M.A. (tengah) didampingin para penguji saat memimpin ujian terbuka/promosi doktor Kajian Budaya

Pada hasil penelitiannya ditemukan faktor penyebab krama Desa Adat Kuta melakukan pemertahanan agama terdiri atas faktor internal dan eksternal. Faktor internal yakni upaya yang dilakukan secara mandiri oleh desa adat sendiri bersama segenap krama dan organisasi sosial keagamaan di bawah Desa Adat Kuta.

Bentuk pemertahanan eksternal dilakukan oleh pemerintah termasuk Kementerian Agama bekerja sama dengan lembaga terkait, seperti Parisada serta Majelis Desa Pakraman dengan melaksanakan pembinaan desa adat.

Di samping itu juga partisipasi pihak swasta, seperti kegiatan lomba penjor dan banten gebogan yang dilaksanakan oleh peguyuban hotel di wilayah Kuta, pengruatan wayang sapu leger, bayuh oton oleh Yayasan Siwa Padma Bhuana, dan partisipasi Yayasan Pembangunan Desa Adat Kuta.

Para undangan dalam ujian terbuka mendapat kesempatan untuk bertanya.

Temuan Penelitian

Temuan penelitian Adiputra adalah semakin hebat “gempuran” globalisasi terhadap kehidupan krama Desa Adat Kuta menjadikan semakin tinggi semangat dan upaya krama desa untuk mampu adaptif dan unggul. Dalam upaya pemertahanan agama Hindu dan kearifan lokal (budaya) tidak ada kewenangan desa adat mengatur agar setiap bangunan besar, seperti hotel dan restauran berciri arsitektur Bali.

Krama desa sangat membutuhkan tuntunan agama agar penerapan yajnya dalam ukuran kanista (inti), madya, dan utama serta yajnya yang satwik dapat dipahami dengan jelas dan tegas sehingga krama desa dapat beragama semakin benar, utuh, seimbang, dan efektif. Pemuka umat dan pemuka agama di Desa Adat Kuta merasakan sangat perlu membuat kebijakan strategis untuk mengantisipasi ancaman globalisasi yang semakin dahsyat.

Predikat Kelulusan

Mahasiswa Doktor angkatan 2006-2007 ini berhasil mempertahankan disertasinya dan dinyatakan lulus dengan predikat sangat Baik.

I Gede Rudia Adiputra menjadi Doktor yang ke-13 di lingkungan FIB dan ke-194 di lingkungan Prodi Doktor Kajian Budaya FIB Universitas Udayana (Ida Ayu Laksmita Sari).