Seminar Seri: Repatriasi Budaya Bali untuk Kepentingan Pendidikan dan Pemajuan Kebudayaan Bali

Dr. Edward Herbst dan moderator Ida Ayu Laksmita Sari dalam seminar repatriasi kebudayaan Bali di FIB Unud, Selasa, 22 Agustus 2017 (Foto-foto Darma Putra)

Proyek Arsip Bali 1928 terus berusaha untuk memulangkan arsip seni budaya Bali yang tersebar dan tersimpan di berbagai tempat di luar negeri untuk kepentingan pendidikan dan pemajuan kebudayaan Bali. Demikian disampaikan Kordinator Arsip Bali Marlowe Bandem dalam Seminar Seri Sastra dan Budaya di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud, Selasa, 22 Agustus 2017.

Seminar yang membahas topik “Repatriasi, Hegemoni dan Perspektif Politik Kebudayaan Bali” dibuka oleh Dekan FIB Unud, Prof. Dr.  Luh Sutjiati Beratha,M.A. berlangsung di Ruang Ir. Sukarno kampus setempat. Peserta yang ikut mencapai 100 orang lebih, melampaui kapasitas ruangan.

Prof. Made Bandem dari STIKOM Bali memberikan kenang-kenangan kepada Dekan FIB Unud Prof. Sutjiati Beratha.

Seminar menampilkan tiga pembicara, yaitu Marlowe Bandem, Dr. Edward Herbst (Amerika), dan intelektual dan wartawan I Wayan Juniarta, dengan pemandu Ida Ayu Laksmita Sari,S.Hum.,M.Hum. Sebelum mulai, tampil pelaksana seminar Prof. I Nyoman Darma Putra mengenai makna seminar dalam konteks UU 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan Indonesia yang baru disahkan.

Seminar dihadiri peserta dari berbagai kalangan, seperti Prof. Dr. I Made Bandem, Dr. Saras Dewi (dosen Filsafat Universitas Indonesia), Dr. Bilal dari Toulouse Perancis, Dr. Gde Artawan dari Undiksha Singaraja, aktivis NGO Ngurah Karyadi, serta dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unud.

Sangat Bermanfaat

Dekan FIB Prof. Sutji dalam sambutan pembukaannya menyampaikan terima kasih kepada tim Arsip Bali 1928 STIKOM Bali yang menyiapkan materi dalam seminar.

Menurut Prof. Sutji yang kakek dan ayahnya seorang seniman tabuh menyampaikan bahwa usaha Arsip Bali mengembali pita rekaman dan arsip budaya Bali lainnya sangat bermanfaat untuk revitalisasi kebudayaan Bali.

“Kami sudah merasakan buktinya. Rekaman Kebyar Ding yang dipulangkan memungkinkan kami melakukan restorasi kebyar yang diciptakan oleh kakek saya,” ujar Prof. Sutji cucu dari seniman Regog dan putri dari maestro karawitan I Wayan Beratha.

Marlowe Bandem (kiri), kordinator Arsip Bali 1928 saat presentasi.

Ke depan, Prof. Sutji berharap untuk melakukan kerja sama dengan STIKOM Bali dalam menggali dan mengkaji arsip seni budaya Bali untuk penelitian dan pengembangan seni budaya Bali yang demikian kaya.

Hasil dan Tujuan Repatriasi

Marlowe Bandem menjelaskan bahwa selama ini tim-nya berusaha keras untuk memulangkan arsip seni budaya Bali. “Yang kami berhasil pulangkan adalah rekaman piringan hitam berisi kakawin dan kidung, macapatan, gamelan Bali, dan film-film yang diproduksi tahun 1920-an dan 1930-an,” ujarnya.

Selain itu, usaha repatriasi kebudayaan itu dilakukan dengan prinsip lintas media, selain rekaman suara, film, juga direpatriasi foto-foto, termasuk foto-foto dari penampilan kesenian Bali di Paris Colonial Exposition tahun 1931.

Suasana seminar repatriasi kebudayaan Bali.

Tujuan kegiatan pemulangan kebudayaan  ini, menurut Marlowe, adalah repatriasi, restorasi, diseminasi. “Rekaman sudah digitalisasi ke dalam DVD, begitu juga film-film,” tutur putra Prof. I Made Bandem ini.

Dalam aktivitas diseminasi, menurut Marlowe, pihaknya sudah mementaskan film-film ke banjar-banjar dan komunitas sampai 30 kali. “Kami terus bermaksud melakukannya, jika ada masyarakat atau komunitas berminat, kami siap datang,” tuturnya.

Yang tak kalah pentingnya adalah bahwa repatriasi dari luar negeri ini memberikan inspirasi untuk memberikan perhatian pada koleksi foto atau materi budaya lainnya yang dimiliki masyarakat. “Kami tahu ada beberapa keluarga memiliki foto dari zaman dulu, saatnya kenangan itu diberikan makna dan dirawat,” ujarnya.

Peserta seminar.

Arsip Bali dan Pemajuan Kebudayaan

Dalam pengantar diskusi, Darma Putra menyampaikan program Arsip Bali 1928 bersifat visioner karena muncul lebih awal dari amanat UU 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan mengenai penyelamatan kebudayaan.

Dalam UU itu ada disebutkan aspek perlindungan sampai penyelamatan kebudayaan Indonesia. Usaha penyelamatan itu dilakukan lewat revitalisasi, repatriasi, dan restorasi. “Proyek Arsip Bali sudah memenuhi tiga amanat itu,” ujar Darma Putra.

Dia menyarankan peneliti aktif bekerja sama dengan Arsip Bali 1928 untuk meneliti kekayaan koleksi Arsip Bali untuk memproduksi berbagai pengetahuan kebudayaan tentang Bali.

Saras Dewi, dosen Filsafat Universitas Indonesia, dalam diskusi.

Manfaat bagi orang Biasa?

Menurut Juniarta, arsip budaya Bali tentu sangat penting bagi sarjana untuk penelitian, tetapi apa manfaatnya bagi orang biasa?

Juniarta menyebutkan mulainya arsip Bali ketika diputar ke komunitas dan banjar-banjar sehingga masyarakat biasa bisa bercermin dalam karya seni leluhurnya.

Juniarta menyebutkan gerakan Arsip Bali sejalan dengan berbagai usaha dewasa ini seperti gerakan pembinaan bahasa Bali di Bali, yang dilakukan atas kekhawatiran bahwa bahasa Bali akan mati.

Peserta seminar antusias mendengar dan merekam jalannya seminar.

“Kebudayaan Bali tidak akan mati karena masyarakat memiliki perangkat untuk menghidupkan, juga karena karakter budaya Bali itu sendiri yaitu yang tidak uniform, yang tidak statis, yang tidak tertutup, maknanya hidup terus,” ujarnya.

Menurut Jun, karena heterogen, terbuka, dinamis, maka kebudayaan Bali tidak takut dengan pengaruh luar. “Itu semua membuat masyarakat Bali dapat belajar dari budaya luar sehingga tak hanya survive tetapi eksis terus,” tutur Juniarta.

Prof. Made Bandem, tekun mengikuti diskusi.

Tanya Jawab

 Peserta antusias menyampaikan pertanyaan dalam diskusi. Dosen Kopertis Bali Dr. Oka Prasiasa yang memiliki niang (leluhur) seorang penembang Ni Dayu Made Rai yang masuk dalam Arsip 1928. Dia juga mengundang agar tim Arsip Bali 1928 bisa datang ke Penarukan, Buleleng, untuk memutar Sinema 1928.

Dalam diskusi, Edward Herbst menyampaikan program 15 tahun belakangan ini sangat monumental dan akan diteruskan dengan juga menerbitkan buku sehingga bisa didesiminasikan, selain tentu rekaman DVD-nya.

Para pembicara dan moderator menerima buku “Harmoni Sosial Lintas Budaya’ terbitan FIB Unud.

Menjawab pertanyaan Komang Nariani mengenai fenomena kematian beberapa kesenian seperti drama gong dan kuliner, Jun menjawab bahwa kehadiran teknologi seperti Youtube akan membuat kesenian dan budaya Bali dapat didokumentasikan dan dilestarikan. Kalau ada yang ingin belajar menari, sekarang bisa meniru dari dokumen di Youtube.

“Yang penting juga, kesenian dan budaya Bali perlu dibuat relevan dengan masyarakat sehingga akan ditekuni terus oleh masyarakat,” ujar Jun.

Dosen Filsafat UI Saras Dewi yang tengah merintis pembangunan museum Sanghyang Dedari berharap dapat menggalang kerja sama untuk melestarikan tari Sanghyang Dedari melalui dokumen koleksi dari masa lalu (*).