Buku “Teori Etika Lingkungan” Karya Dosen Antropologi FIB Unud

Buku karya Dr. Industri Ginting Suka.

Dosen Antropologi FIB Unud, Dr. Industri Ginting Suka,M.S.,  menerbitkan buku berjudul Teori Etika Lingkungan; Antroposentris, Ekofeminisme, Ekosentrisme (2017). Buku ini diterbitkan oleh Udayana University Press.

Dr. Ginting Suka menyelesaikan studi doktornya di Jurusan Ilmu Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) tahun 2011. Untuk studi S-1 dan S-2 dia belajar ilmu lingkungan masing-masing di UGM dan Universitas Indonesia.

Menurut Dr. Ginting, etika lingkungan adalah studi tentang nilai-nilai dan status moral manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Tujuan Etika Lingkungan

Ada beberapa tujuan mempraktikkan etika lingkungan dalam realitas kehidupan  yaitu; a) untuk menantang cara berfikir yang berpusat pada manusia; b) untuk mengeksplorasi aspek ekologi budaya; c) untuk mengintegrasikan model-model filsafat tradisional kearifan terhadap lingkungan dengan isu-isu lingkungan aktual saat ini; dan d) untuk mempromosikan etika (atau setidaknya berpikir) dengan pendekatan lingkungan.

Etika lingkungan adalah bidang studi yang relatif muda. Sejak sekitar tahun 1930-an, para ilmuwan dan pemerhati lingkungan mulai khawatir tentang dampak dari aktivitas manusia di planet bumi.

Minat  akan masalah ini bertambah luas di tahun 1960-an sampai tahun  1970 –an, maka pada saat itulah etika lingkungan muncul sebagai bidang akademik tersendiri.

Pada saat ini masih sulit menemukan program studi yang khusus memperbincangkan masalah etika lingkungan, karena bidang studi ini menuntut kerja lapangan sehingga langka peminatnya.

Mengapa Penting?

Etika lingkungan sangat penting karena studi ini menuntut orang untuk mempertimbangkan bagaimana tindakan perilakunya mempengaruhi manusia lain dan lingkungan.

Ketika orang menyadari dampak perilakunya, diharapkan dapat  mengubah perilaku ketidakpedulian pada lingkungan, misalnya orang mungkin memutuskan untuk mendaur ulang limbah domestiknya, untuk diberikan atau dijadikan pakan hewan dan pupuk tanaman, tidak menebang pohon, tidak merokok, atau tidak menggunakan pestisida, atau menolak menggunakan bahan plastik, atau menjadi kader pecinta lingkungan, yang akan memberi penjelasan bagaimana mengelola lingkungan dan menjadikan etika lingkungan sebagai bagian dari perilaku hidup sehari-hari.

Sampul belakang.

Buku kecil ini ditulis untuk memberikan perspektif etika lingkungan yaitu antroposentrisme, ekofeminisme, dengan tekanan utama pada ekosentrisme kepada para peminat dan pemerhati lingkungan, baik itu personal, mahasiswa ataupun institusi lainnya. Disaat buku tentang etika lingkungan terbilang langka, maka penulis memberanikan mempublis buku ini untuk dijadikan bahan refrensi ilmiah bagi para peminat studi etika lingkungan.

Akhir kata semoga buku kecil yang kurang sempurna ini bermanfaat dan berdaya guna bagi peminatnya, dan diharapkan dapat menambah khazanah buku teori etika lingkungan (*/dp).