Buku “Bahasa dalam Perspektif Sosial Budaya” Suntingan Dosen FIB Unud

Dosen Prodi Sastra Inggris Prof. Dr. I Made Budiarsa,M.A. dan alumnus S-3 Prodi LInguistik FIB Unud Dr. Yohanes Kristianto, M.Hum. selaku editor menerbitkan buku berjudul Bahasa dalam Perspektif Sosial Budaya. Buku setebal 329 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Swasta Nulus, Denpasar (2017).

Buku ini merupakan kumpulan artikel yang sudah pernah dimuat dalam berbagai prosiding. Sebagian besar ditulis Prof Budiarsa dan Dr Yohanes Kristianto, selebihnya karya bersama-sama dosen dan alumni Prodi Doktor Linguistik termasuk I Wayan Simpen, Ni Made Dhanawaty, Ketut Artawa, Nyoman Sedeng, Ketut Putra, Ni Made Diana Erfiani, Citra Juwitasari, Rai Sukaja, dan I Made Sendra.

Topik-topik sosial-budaya yang disajikan dalam bunga rampai ini adalah (1) kesadaran aktor (penutur bahasa) terhadap praktik berbahasa lokal, (2) praktik bahasa di ranah pariwisata, (3) praktik bahasa dan lingkungan penutur bahasa, dan (4) ancangan perspektif ilmu bahasa untuk mengkaji fenomena praktik bahasa kekinian.

Gambaran Ringkas

Bahasa adalah alat untuk memahami realitas dan sekaligus untuk menjelaskannya (Gadamer, 1960).  Sebagai alat, setiap praktik berbahasa tentunya memiliki paradigma  dalam membentuk kerangka pemikiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan realitas. Bahkan, dengan bahasa manusia dapat membuat seperangkat konsep yang secara logis membentuk kerangka pemikiran.

Oleh karena itu, paradigma berbahasa merupakan seperangkat konsep dalam penggunaan bahasa  yang berhubungan secara logis, baik secara paradigmatik, sintagmatik, metonimik dan metaforik dalam praktik berbahasa. Paradigma berbahasa berada pada tataran logika, pada tataran pemikiran, sedang relasi antarunsur bahasa berada pada tataran fungsi. Karena paradigma berbahasa adanya dalam pikiran, maka konsep-konsep berbahasa membentuk kerangka pemikiran bagi penutur bahasa (Ahimsa-Putra, 2009:1-2).

Bahasa pada hakekatnya adalah suatu sistem. Sebagai suatu sistem, bahasa terdiri dari tanda-tanda yang tersusun secara teratur. Artinya, tanda-tanda bahasa terstruktur hingga membentuk sebuah sistem tertentu. Namun, struktur bahasa bersifat abstrak yang terinternalisasi dalam setiap pikiran penutur bahasa.

Menurut pandangan Saussurian, struktur dapat dimaknai sebagai langue, yang selalu ada dalam pikiran setiap penutur bahasa. Dengan langue, penutur bahasa mampu mengungkapkan gagasan  dalam bentuk tuturan (parole).  Terkait dengan hal tersebut, Giddens (1984) mengatakan bahwa  struktur  merupakan “rules and resources” yang berkaitan dengan tata aturan dan sumber daya,  yang selalu diproduksi dan direporuksi,  dan me­miliki hubungan dualitas dengan agensi, serta melahirkan berbagai praktik sosial. Lebih lanjut, Giddens berpendapat bahwa struktur merujuk pada aturan-aturan dan sarana-sarana atau sumber daya yang memiliki perlengka­pan-perlengkapan struktural yang me­mungkinkan pengikatan ruang dan waktu yang mereproduksi praktik-praktik sosial dalam sistem-sistem sosial kehidupan masyarakat.

Dalam paradigma strukturalisme, struktur dipandang seba­gai suatu penciptaan pola relasi-relasi sosial atau fenomena-fenomena sosial serupa, sebagai kerangka atau morfologi sebuah organisme atau tiang penyangga sebuah bangunan, yang berada di luar tindakan manusia. Kritik Giddens kepada strukturalisme ialah, bahwa pandangan strukturalisme terutama strukturalisme-fungsional cenderung lebih tertuju pada fungsi daripada struktur dan meletak­kan struktur sebagai sesuatu yang berada di luar.

Oleh sebab itu, struktur ialah hal-hal yang menstrukturkan (aturan dan sumberdaya) atau hal-hal yang memung­kinkan adanya praktik sosial yang dapat dipahami kemiripannya di ruang dan waktu serta yang memberi mereka ben­tuk sistemis. Struktur hanya ada di dalam dan melalui aktivitas agen manusia. Konsep du­alitas struktur dalam hubungan antara agen dan struktur (agency and structure), bahwa struktur merupakan medium sekaligus hasil dari tindakan yang ditata secara berulang oleh struktur.

Berbeda dengan pandangan struk­turalisme yang memandang struktur be­rada di luar (eksternal) yang menentang dan mengekang pelaku, teori strukturasi Giddens memandang objektivitas struk­tur tidak bersifat eksternal melainkan melekat pada tindakan dan praktik sosial yang dilakukan agen atau pelaku.

Struktur bukanlah benda melainkan skemata yang hanya tampil dalam praktik-praktik sosial (social practices). Praktik sosial itu bersifat berulang dan berpola dalam lintas ruang dan waktu. Untuk itu, bahasa patut dikaji dari perspektif praktik sosial keseharian yang dilakukan oleh aktor konkret (penutur bahasa).

Buku Bahasa dalam Perspektif Sosial Budaya adalah kumpulan beberapa artikel ilmiah berdasarkan hasil penelitian empiris dan teoretis tentang fenomena bahasa dalam praktik sosial-budaya oleh aktor konkret (penutur bahasa) (*).