Seminar “Memorial Lecture” Penghormatan terhadap Sejarawan FIB Unud Prof. A.A. Gde Putra Agung

Penyerahan penghargaan kepada Prof. Dr. A.A. Gde Putra Agung, dari kiri ke kanan: Prof. I Ketut Ardhana, Prof. AA Gde Putra Agung, Dirjen Kebudayaan Dr. Hilmar Farid, dan Dekan FIB Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha,M.A.

 Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Bali bekerja sama dengan Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud menggelar sebuah seminar Memorial Lecture untuk menghormati tokoh sekaligus pemikir dalam ilmu sejarah Bali, Prof. Dr. A.A. Gde Putra Agung, S.U.

Seminar yang dibuka Dirjen Kebudayaan Dr. Hilmar Farid dilaksanakan pada Jumat, 4 Agustus 2017, di Aula Widya Sabha Mandala Prof. Dr. I.B. Mantra. Seminar berlangsung sejak pukul 09.00 hingga pukul 14.00 wita.

Prof. Dr. A.A. Gde Putra Agung, S.U. kelahiran Puri Karangasem , 3 September 1937, adalah pensiunan guru besar Prodi Sejarah FIB Unud. Dia banyak menulis buku sejarah dan menjadi rujukan sarjana dalam dan luar negeri. Salah satu karya ahli sejarah lulusan UGM ini yang banyak dirujuk adalah Perubahan sosial dan pertentangan kasta di Bali Utara (Penerbit Yayasan untuk Indonesia, 2001).

Buku karya Prof. AA Gde Putra Agung.

Peserta Seminar

Seminar ini diikuti oleh berbagai kalangan yang memiliki ketertarikan terhadap ilmu sejarah, mulai dari guru sejarah, dosen sejarah, mahasiswa, serta beberapa lembaga penelitian sejarah yang bersifat independen. Hadir pula beberapa veteran yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah bangsa.

Prof. Dr. I Ketut Ardhana, M.A sebagai ketua panitia menyampaikan bahwa penyelenggaraan seminar memorial lecture ini bertujuan untuk memberikan apresiasi terhadap peran yang sudah ditunjukkan oleh sejarawan dalam mengarahkan dan mengembangkan ilmu sejarah sebagaimana ditunjukkan di masa lalu dan sekarang.

Sambutan Ketua Panitia Memoriam Lecture, Prof. Dr. I Ketut Ardhana, M.A.

Memahami peran tokoh sejarah yang telah berkontribusi bagi pengembangan ilmu sejarah di daerah dan keteladanannya di masyarakat. Memperkuat kenangan kolektif para sejarawan akan peran tokoh-tokoh sejarah di masa lalu baik di dunia pendidikan dan masayarakat pada umumnya

Apresiasi bagi Sejarawan

Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha. M.A. dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar Memorial Lecture ini menjadi sebuah apresiasi serta bentuk penghargaan yang luar biasa bagi sejarawan dalam kontribusinya terhadap pengembangan ilmu sejarah.

Dekan FIB, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Bratha, M.A

Dalam kegiatan seminar ini, masyarakat juga memperoleh pengetahuan akan peran tokoh sejarah yang telah berkontribusi untuk pengembangan keilmuan, serta mampu mengambil tauladan atas apa yang telah dilakukan tokoh-tokoh sejarawan tersebut.

“Kegiatan semacam ini lebih jauh dapat dikemas untuk melaksanakan kegitan pendidikan, penelitian dan pengabdian kesejarahan di masyarakat Bali sebagai bagian pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ujar Prof. Sutji.

Lebih lanjut Prof. Sutji mengharapkan bahwa Fakultas Ilmu Budaya sebagai salah satu tempat bernaung ahli-ahli ilmu budaya termasuk sejarah, dapat mengembangkan lebih mendalam kajian-kajian kebudayaan utamanya sejarah yang bersifat multidimensional, baik secara praktis maupun teoritis.

Pola pengembangan ini dapat dilakukan dengan menangkap isu-isu lokal yang berkaitan dengan kearifan lokal, sehingga hasilnya diharapkan mampu berkontribusi pada kemajuan pembangunan karakter masyarakat dan bangsa Indonesia, khususnya guna menghadapi era globalisasi.

Perspektif Baru Metodologi Penelitian Sejarah

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Hilmar Farid berkesempatan membuka seminar sekaligus memberikan pandangannya sebagai bagian dari Masyarakat Sejarawan Indonesia.

Dirjen Kebudayaan RI, Dr. Hilmar Farid

Dirjen Hilmar Farid menyambut baik dan berterimakasih atas terselenggaranya seminar Memorial Lecture seperti ini. Seminar ini diharapkan dapat diselenggarakan juga di kampus-kampus lain guna mengembangkan pola akademis yang lebih komprehensif.

Seminar semacam ini diharapkan tidak saja mengadakan ceramah, tapi mengadakan ceramah yang kontekstual. Kita menghargai dan mengapresiasi kontribusi intelektual dari para sarjana yang menghidupi ruang-ruang intelektual di perguruan tinggi dan memberi warna di tingkat nasional.

Dr. Hilmar Farid mengapresiasi peran dan kontribusi Prof. Dr. A.A. Gde Putra Agung, S.U. dalam dunia intelektual sejarah khususnya pada sejarah lokal Bali. Hasil pemikiran Prof. Putra Agung memberi kontribusi yang besar pada bidang penelitian kasta di Bali.

Studi kepada Bali dengan metode yang lebih komprehensif dan interdisipliner memungkinkan untuk menjawab pertanyaan besar bagaimana sebenarnya metode yang tepat untuk mengkaji sejarah lokal.

Pendekatan interdisipliner mampu membuka ruang-ruang disiplin keilmuan kita bagi interaksi dan pertukaran dengan disiplin lain. Dengan pendekatan ini diharapkan mampu memberi pandangan yang baru terhadap objek-objek lokal. Kalau mempelajari sejarah lokal dengan pendekatan tadi adalah modal kerja ilmiah di masa yang akan datang yang basisnya adalah kolaborasi.

Pada masa analogi, kita berpijak pada individu-individu yang hebat, dimasa sekarang kita berpijak pada kemampuan kolabosari yang hebat. Bali menjadi sattu tempat yang tepat untuk mengembangkan model ini, mempelajari sejarah suatu wilayah dengan segala kompleksitasnya dengan pendekatan interdisipliner.

Penampilan Bondres sebagai hiburan.

Bondres Not For Sale

 Guna mencairkan suasana seminar yang begitu hangat, panitia seminar menutup acara dengan bondres. Pertunjukan bondres yang dibawakan oleh mahasiswa Doktor Kajian Budaya FIB mengangkat kritik sosial seputar keberadaan subak di Bali.

Kehadiran bondres ini mampu menghibur para peserta seminar sembari menikmati santap siang yang telah disiapkan panitia seminar (I Gede Gita Purnama Arsa Putra/ Ida Ayu Laksmita Sari).