Dosen Sastra Indonesia FIB Unud, Dr. Maria Matildis Banda Terbitkan Novel Baru “Suara Samudra, Catatan dari Lamalera”

 

Dosen Prodi Sastra Indonesia, Dr. Maria Matildis Banda, baru saja menerbitkan novel barunya. Novel Suara Samudra Catatan dari Lamalera (2017) ditulis berdasarkan penelitian etnografi masyarakat nelayan Lamalera di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur.

 

Novel setebal 488 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Kanisisus.Lamalera! Negeri tepi samudra di wilayah selatan Lembata yang unik dan menarik dalam pandangan penulis karya sastra. Desa nelayan yang ‘terpencil’ ini mendunia karena tradisi penangkapan ikan paus yang telah berlangsung ratusan tahun.

 

Bagi orang Lamalera, ikan paus adalah karakter budayanya.Menghilangkan tradisi penangkapan ikan paus sama halnya dengan ‘menghilangkan’ karakter budaya sebuah etnis.

 

Perburuan Ikan Paus

 

Perburuan ikan paus bukan hanya soal berburu dan ikan paus,  tetapi soal struktur sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakatnya; soal hubungan kekerabatan, rumah adat, tanah, dan peledang (perahu); serta berbagai dinamika sosial budaya yang tumbuh dan berkembang menghadapi berbagai perubahan.

 

Inspirasi novel.

Tradisi “leva nua” penangkapan ikan di laut – khususnya ikan paus – wajib berlangsung dengan bersih dan damai berpijak pada kearifan leluhur “apa yang engkau lakukan di darat akan mendapat jawabannya di laut.”

 

Karakter Bangsa

 

Melalui novel ini ingin disampaikan bagaimana membangun karakter bangsa melalui pembelajaran sastra berbasis ekologi dan pariwisata. Kekayaan laut desa nelayan Lamalera inspiratif dan imajinatif untuk dibawa ke dalam karya sastra laut dari desa di wilayah selatan lembata menuju Indonesia dan dunia.

 

Menurut Maria, gagasan penulisan novel dengan latar penangkapan ikan paus di Lamalera, berawal dari sebuah film dokumenter tentang tradisi penangkapan ikan paus di Lamalera.

 

Selanjutnya ada beberapa berita tentang tragedi yang menimpah nelayan, kehilangan maupun kematian, serta pro-kontra soal konservasi dan perlindungan ikan paus.

 

Maria menuturkan bahwa Juni 2007 dia pergi ke Lamalera. Melewati jalan panjang, berlubang dan berbatu-batu.

 

“Setelah dua sampai tiga jam perjalanan, saya tiba di Lamalera, dan langsung ke pantainya. Benar di sana sedang berlangsung serangkaian kegiatan nelayan membagi-bagi ikan paus,” katanya.

 

Dalam perjalanan pertama, Maria mendapatkan banyak data dan informasi langsung di lapangan tentang nelayan, lamafa (penikam ikan paus), peledang (perahu), breung alep (pembantu lamafa), matros (pendayung perahu), lama uri (juru mudi) naje (rumah pelindung perahu), sistem pembagian ikan, sistem barter, dan lain-lain.

 

Karakter Alam

 

Mendapatkan gambaran setting dan karakter alam dan nelayan, pantai, tebing, teluk, tanjung, lautan, cakrawala, langit, dan bahkan awan yang berkaitan langsung dengan aktivitas melaut.

 

“Saya melakukan investigasi lapangan, membuat sketsa setting, tempat-tempat imajiner, wawancara dengan beberapa nelayan, dan membuat beberapa catatan khusus tentang ikan paus,” ujar doktor Maria yang aktif menulis sejak menjadi mahasiswa S-1.

 

Di Lamalera dia mendapat kesempatan menggali lebih jauh tentang Gripe -tangga alam- yang menghubungkan Lamalera A dengan ciri utama tebing tinggi dengan Gereja Santo Paulus Petrus di ketinggian, dan Lamalera B dengan ciri utama pantai Lamalera dan Kapela Santo Petrus di hadapan pantai. Gripe membangun ruang imajinasi yang sangat luas.

 

Gripe yang telah runtuh, tersambungnya Lamalera A dan B dengan jalan raya yang dapat dilewati kendaraan roda empat, memberi keterangan tentang perubahan peradapan yang terjadi selanjutnya.

 

Masyarakat dan ikan paus

“Perjalanan dan temuan di Lamalera itu saya tulis dalam bentuk novel dalam penggalan -penggalan berupa draf yang saya ditinggalkan pada tahun 2007 di rumah di Ende Flores. Tidak ada kelanjutannya karena beberapa aktivitas lain yang menyita perhatian,” tuturnya.

 

Proses Penulisan

 

Menurut Maria, draf tentang Lamalera baru mulai dibukanya kembali, September 2015, setelah novel Wijaya Kusuma dari Kamar Nomor Tiga (2015).

 

“Saya baca ulang kembali seluruh draf dan mengalami kesulitan untuk menemukan kembali roh dari tulisan saya,” tambahnya.

 

Akhir April 2016 dia kembali ke Lamalera. Dia merasa beruntung karena ketika dia tiba di Lamalera, ada seekor koteklema (ikan paus) yang juga ditibakan di pantai.

 

Ikan paus itu ditambatkan tepat hari Sabtu, 29 April. Baru dibagi-bagi setelah misa arwah yang meninggal di laut 30 April dan Misa pembukaan musim berburu ikan paus 01 Mei.

 

“Pengalaman ini memperkaya kekuatan dan kedalaman isi novel,” tutur Maria.

 

Kembali dari sana saya coba menulis kembali di tengah pekerjaan lain, penulisan karya ilmiah, seminar dan lokakarya, perkuliahan, bimbingan mahasiswa, dan lainnya. Akhir Desember 2016 novel ini selesai ditulis, dan sampai kepada dua pembaca pertama, yaitu Retno dan Dayu Gayatri. Sekali lagi novel ini dibaca Pater Charles Beraf, SVD sebelum diterbitkan.

 

Lamalera (Lama artinya piring; lera artinya matahari). Piring matahari dengan segenap keberadaan dan kehidupan di dalamnya. Sastra laut, sastra pariwisata, sastra bumi, sastra etnografi dan etnografi sastra, sastra humanitas…ruang tempat dan waktu imajiner yang menjadikan novel ini hadir di hadapan pembaca sekalian. SUARA SAMUDRA Catatan dari Lamalera!

 

Selamat kepada Maria Matildis Banda atas karya pentinya, novel berbasis riset etenografis (MMB/DP).